Minggu pagi itu, aku, Nisa dan Rizka yang masih duduk
dibangku kelas dua MAN 2 Medan, sepakat akan mengisi liburan. Rencana kami pagi
itu adalah ke kota berastagi. Sebenarnya udah sering kali aku ke kota itu, tapi
karena kedua temanku mengajak kesana juga, ya tak mengapalah kuikuti saja
keinginan mereka. Apalagi siNisa, katanya belum pernah ke Berastagi, mau
ketawaknya aku mendengarnya.
Jadi berkumpullah kami di jalan jamin ginting daerah Padang
Bulan Medan, ya kira- kira 300 meterlah melewati simpang pos. Kalau disitu
memang tempat mangkalnya beberapa bus mini yang akan membawa penumpang ke arah
kabupaten Karo. Ada merk busnya Sutra, Sumatera, Borneo. Tapi kali ini kami
naek bus “Sinabung Jaya”. Masalah ongkos Cuma Rp 10.000,- dan bayar
masing-masinglah yoo he..he..he..
Hari ini macam pemandu wisata pulak aku dijadikan oleh kedua
temanku itu. Macam manalah aku tak ketawak, mendengar pengakuan temanku yang
belum pernah melihat gunung. Jadi sepanjang perjalanan asik ketawak ajalah
kerja kami. Tak terasa kami udah sampai di Sembahe. Sebuah sungai yang ramai
dikunjungi, terutama pada hari libur. Mulai dari desa Sembahe itu,
perjalananpun terus menanjak dan berliku.
Begitu juga setelah melewati bumi perkemahan Sibolangit. Bus
Sinabung Jaya yang kami naiki langsung tancap gas melewati desa Bandar Baru
yang terus menanjak hingga daerah Tongkoh. Tongkoh, sering dijadikan tempat
beristirahat bagi pengendara sepeda motor dan mobil pribadi. Di Tongkoh ini
banyak yang jual jagung, baik yang direbus ataupun jagung bakar. Menikmati
panorama alam sambil makan jagung dan
minum air hangat atau air tebu tentu terasa nikmat.
Sekitar 500 meter melewati Tongkoh, bus sampai di simpang
tiga desa Daulu. Kalau jalan yang belok ke kanan merupakan jalan yang sering
dilalui oleh mereka yang hendak mendaki gunung Sibayak. Disana juga ada kolam
pemandian air panas yang beraroma belerang. Tapi tujuan kami kali ini bukan ke
sana, makanya bus Sinabung Jaya ini pun terus menuju ke Berastagi.
Dalam beberapa menit kemudian, kami melewati Tahura (Taman
Hutan Raya) yang merupakan salah satu hutan yang dilindungi. Sebenarnya aku
bermaksud hendak turun di Tahura ini. Dari simpang tiga yang ada di depan
Tahura, aku berencana membawa kedua temanku terlebih dahulu ke Taman Lumbini.
Tapi karena aku sedikit tertidur, maka kelewatanlah simpang
itu. Maklumlah masih pemandu amatir he..he..he.. “Turun dimana kita Tiara ?”,
tanya Rizka seraya membangunkanku. Karena ku tengok sudah di bukit Kubu, maka
kubilang sajalah di Tugu Kota. Padahal sudah kelewatan simpang tiga yang
didepan Tahura itu J.Sampai di Tugu Perjuangan kota Berastagi, kami diturunkan
dan membayar ongkosnya rp 10.000/orang.
Aku ajak mereka ke warung yang berada tepat di depan lokasi
berhentinya bus itu. Seperti kebiasaanku, aku memesan teh susu hangat sambil
melepas lelah setelah hampir dua jam diperjalanan dari kota Medan. Dari Warung
minum itu aku menunjuk ke arah sebuah bukit bernama : Bukit Gundaling”. Aku
menjelaskan kepada kedua temanku bahwa kami akan kesana.
1.Ke Bukit Gundaling.
Setelah selesai minum, kamipun menyeberang hendak mendapatkan
angkot yang membawa kami ke puncak bukit itu. Namun karena mereka tak sabar
menunggu angkot yang datang, maka kuajak mereka berjalan santai saja, mana tau
ketemu angkot, ya tinggal naik aja. Kamipun berjalan melewati jalan raya menuju
ke bukit gundaling.
Entah mengapa pikiran kami berubah. Dari pada naik angkot,
lebih asyik kita berjalan kaki santai aja. Maka sepakatlah kami berjalan
melewati kebun-kebun milik penduduk. Ada yang menanam jeruk, ada tanaman
wortel, toman dsb. Asyik juga trecking
di tengah ladang. Kami melewati ribuan anak tangga untuk sampai di gundaling.
Alhamdulillah akhirnya sampai juga di puncak Bukit Gundaling.
Kamipun mencari tempat duduk untuk sekedar beristirahat.Acara kita saat ini
adalah Makaaaannn. Kamipun tertawa sambil mengeluarkan bekal makanan yang
masing – masing kami bawa dari rumah. Kami menikmati indahnya Panorama disini.
Dari bukit ini kami dapat melihat dengan jelasnya kawah
Gunung Sibayak. Sementara agak dikejauhan terlihat Gunung Sinabung. Begitu juga
dengan kota Berastagi kelihatan berada dibawah bukit ini. Ya disini Cuma
menikmati keindahan panorama alam saja. Makanya banyak pelancong berfoto – foto
ria dengan latar belakang pemandangan yang begitu luasnya.
Setelah puas menikmati bukit gundaling, kami sepakat untuk kembali
turun ke pusat kota Berastagi. Tapi kali ini nggak jalan kaki lagi, melainkan
naik angkot saja. Lagipun ongkosnya Cuma rp 3000,- saja.
*****
Kota Berastagi memang indah. Aku suka kota ini. Sejak umur
dua tahun aku sudah dibawa kedua orang tuaku menginap di kota ini. Sakin
seringnya, udah tak ingat aku sudah berapa kali menginap di kota ini. Pokoknya
udah macam kampungkulah kota berastagi ini J. Yang paling kusuka disaat malam
hari, sepanjang jalan veteran ini, banyak kali warung tenda hingga larut malam.
Tapi warung tendanya buka sekitar jam lima sore hingga larut
malam. Ya lokasinya didepan ruko didekat tugu hingga ke terminal bus . Ayam
& Ikan Panggang, mie rebus, kerang rebus, pecal, sate, bandrek, kopi, teh
dan pokoknya banyaklah kuliner nusantara disajikan. Harganyapun nggak mahal
koq. Suasana udara yang dingin serta asap yang mengepul membuat kenangan
sendiri di kota ini.
2.Ke Taman Lumbini.
Oh ya, kembali ketemanku tadi ha..ha..ha.. Setelah singgah di
pasar buah, kami mendapatkan angkot “sigantang sira” yang berwarna kuning. Tujuannya
adalah simpang tiga desa tongkoh yang di dekat Tahura. Ongkosnya sih biasa aja
Rp 3000,- pas buat kondisi kantong back packer J. Dari simpang tiga yang ada patung
buah manggisnya itu ke taman lumbini ada sekitar 1 kilometer.
Maka kami minta
tolong sama pak supir agar sudi kiranya menghantarkan kami sampai ke lokasi. Ya
capek jugalah kalau jalan kaki lagi macam ke gundaling tadi. Syukurlah pak
supirnya bersedia menghantarkan kami hingga ke lokasi dengan tambahan onkos Rp
10.000,-.
Taman Lumbini yang luasnya sekitar 3 hektar ini merupakan
sebuah taman yang didalamnya terdapat pagoda berwarna emas. Pagoda ini
dijadikan tempat sembahyang bagi ummat budha. Disini seakan-akan kita berada di
Myanmar atau Thailand J.
Lokasi tamannya dikelola dengan baik, maka lokasi inipun jadi
tempat lokasi wisata. Gratis lho masuknya, Cuma catat nama, alamat serta nomor
HP aja. Tapi harus ikut aturan yaa, seperti dilarang membawa makanan, harus
sopan dan dilarang merokok,karena dibanyak tempat dipasang cctv. Jadi kalau
duduk di taman, ya bagus – bagus ajalah dan jangan macam – macam J.
Arsitekturnya keren cuy, ini adalah replika Pagoda Shwedagon
di Myanmar. Taman Alam Lumbini berada di Desa Tongkoh, Kecamatan Dolat Rakyat,
Kabupaten Karo.Katanya, hampir semua yang ada di dalam pagoda diimpor langsung dari
Myanmar. Untuk masuk ke pagoda, semua
pengunjung wajib melepaskan alas kakinya dan mematikan ponselnya. Tapi kalau
ditamannya sih boleh – boleh aja.
Kami hanya menikmati pekarangan dan tamannya saja. Lokasi
tamannya mengikuti suasana alamnya. Makanya terdapat banyak anak tangga yang
menuruni bukit. Disana juga ada jembatan berwarna emas yang disebut jembatan cinta.
Tapi hanya boleh dilewati maksimal 10 orang, tapi lebih sering ditutup sih
jembatannya, ya mungkin takut bahaya kale ya.
Setelah cukup puas menikmati taman lumbini maka kamipun
sepakat untuk kembali ke kota berastagi. Dengan menaiki angkot sigantang sira,
kami kembali turun di depan tugu perjuangan. Ya dari depan tugu inilah
rencananya kami naek bus menuju ke Medan.
Tapi sebelum naik bus yang datang dari kota Kaban Jahe,
kuajak kedua temanku untuk makan bakso Seragen yang ada di ruko depan tugu perjuangan
itu. Setiap aku ke Berastagi ini, selalu kusempatkan makan bakso disini.
Karena rasanya lezat, akupun mengajak kedua temanku itu untuk mencobanya.
Setelah kenyang, kamipun naik bus menuju kembali ke Kota Medan.





























