Jumat, 05 Januari 2018

Perjalanan Murah Meriah ke Pulau Weh (1).





Bagi back packer pencinta alam, datangnya masa liburan merupakan hal yang dinantikan. Begitu juga dengan kami. Liburan menjelang tahun baru 2018 barusan kami memberanikan diri melangkahkan kaki menuju Pulau Weh di provinsi Aceh. Sebuah pulau yang belum pernah kami kunjungi. Terletak di ujung utara Pulau Sumatera.


Ada beberapa pilihan transportasi dari Medan menuju kesana, seperti dengan pesawat, rental mobil. Namun kami pilih yang ongkosnya sesuai dengan kantong ajalah he..he..he.. Ya tentu naik bus saja. Ada beberapa bus dari Medan ke Banda Aceh. Seperti Bus Kurnia, PMTOH, Sempati dsb. Mengingat waktu diperjalanan sekitar 12 jam, maka kamipun memutuskan untuk berangkat malam. Hampir semua bus bergerak antara jam 20:00 s/d 09:00. 



Adapun tarif ongkosnya sesuaikan aja dengan isi dompet. Ada bus eksekutif  ongkosnya Rp 250,000. Ada yang patas ongkosnya RP 200,000,-. Walau kami pilih yang patas, namun kondisi busnya Oke kok. Memang semua bus Medan ke Banda Aceh keluaran Marcedes Benz. Toplah pokoknya. Oke kami bergerak meninggalkan kota Medan Pada hari Kamis malam Jumat(28/12/2017). 




Singkat cerita, sekitar jam 09:00 pagi, sampailah di terminal bus terpadu Batoh Banda Aceh. Langsunglah kami pesan tiket bus untuk pulang ke Medan tanggal 31 Desember jam 08:00 seharga Rp 180,000/orang. Kami langsung didekati tukang ojek dan tukang becak yang menawarkan jasanya. Maklumlah pertama kali ke Aceh, masih bingung juga. Kamipun keluar terminal mencari warung sarapan plus mencicipi kopi Aceh.


Sambil menikmati sarapan pagi, kami mencari informasi dari penduduk setempat bagai mana menuju ke Pulau Weh. Bak kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan. Dari Informasi yang didapat kami akan sampai ke Sabang sore hari, mengingat jadwal keberangkatan Fery menyeberang kesana tidak terlalu banyak.




Kamipun memutuskan menginap malam ini di kota Banda Aceh. Ya sasaran pertama tentu mencari penginapan. Tenang aja,banyak transportasi untuk menemukan penginapan. Transportasi online seperti Go Car dan Grab sudah ada. Namun untuk lebih menikmati kota Banda Aceh, kami naik becak ajalah. Setelah mutar mutar kesana kemari akhirnya ketemu juga penginapannya. Maklumlah musim libur, beberapa hotel penuh. Menginaplah kami di hotel M Mulana di Jl Tgk Dianjong Keudah Banda Aceh. Satu kamar bertiga dengan tarif Rp 300,000,- Pake AC, pesawat TV dan disediain wifi udah tergolong murahlah ya. Urunan ya cuma Rp 100,000 per orang he..he..he...



Ngapain lama lama di kamar, ya langsunglah melalak mau tengok tengok kota Banda Aceh. Tapi mau kemana ?. Tenang, tinggal buka aplikasi google map. Oh ternyata penginapannya gak jauh dari masjid raya Baiturrahman. Ya jalan santai ajalah dan ternyata hanya hitungan menit saja udah sampai. 



Dari spanduk yang ada dipagar masjid, dapat informasi bahwa tanggal 26 Desember barusan diadakan peringatan mengenang tsunami 13 tahun yang lalu (2004). Langsung terbersit di pikiran untuk melihat situs atau bekas bekas peninggalan tsunami itu. Maka diputuskanlah bahwa tujuan pertama mengunjungi museum tsunami yang tak jauh dari masjid raya Baiturrahman ini. 



Naik transportasi online atau becak ya. Lagi lagi becak yg jadi pilihan, biar lebih luas dan menikmati pemandangan kota. Syukur ketemu tukang becak yang ramah dan pintar. Tukang becak menawarkan untuk mengunjungi semua situs tsunami yang ada di kota Banda Aceh dan sekitarnya. Berapa ongkosnya pak ?. Iya menjawab :” nanti aja, yang penting kita mutar mutar mendatangi semua bekas tsunami. Setelah mikir sekejap, oke pak lets’go.


Pertama dibawalah kami ke Museum Tsunami melihat foto - foto yang bercerita tentang kejadian tsunami . Setelah cukup informasi dari museum, kami keluar menemui tukang becak yang setia menunggu, he..he..he.. iyalah ongkosnyakan nanti di akhir bayarnya. Oke pak lanjut, kemana kita lagi ?. “Ke kapal Apung” kata siabang becak. Hanya hitungan menit kulihatlah kapal besar yang terdampar di tengah pemukiman penduduk. Tak dapat kubayangkan bagaimana besarnya ombak saat tsunami itu yang menyerat kapal PLTD milik PLN dari laut ke kota. Ya udahlah, tinggal ambil hape.. berfoto cekrek..cekrek..


Lanjut bang. Kamana lagi kita. Abang becakpun menghantarkan kami ke kuburan massal yang tak jauh dari kapal apung itu. Oke lanjut bang. Kamipun di bawa ke sebuah pemukiman penduduk yang di lokasi itu terdampar kapal milik TNI AL yang terdampar dalam posisi miring. Oke lanjut bang. Kamipun di bawa lagi menuju perahu yang tersangkut di atas rumah penduduk yang terletak di daerah Lampulo.



Oke bang lanjut. Kamipun dibawa lagi menuju kawasan Muara. Disini kami menjumpai kawasan pekuburan seorang ulama terkenal beserta beberapa kuburan murid-muridnya. Ulama itu bernama ‘Abdul rauf atau dikenal juga dengan ulama Syiah Kuwala. Menurut penjaganya, lokasi yang terletak ditepi pantai itu habis luluh lantak oleh terjangan ombak tsunami, kecuali batu nisan ulama ini.



Oke bang lanjutkan perjalanan kita. Kamipun dibawa kembali dibawa ke kota melewati pelabuhan Uleelhue. Sepanjang perjalanan si abang becak terus aja bercerita tentang kejadian tsunami yang dialaminya langsung saat itu. Disaat tiba dipersimpangan siabang berhenti di depan masjid Baiturrahiim yang merupakan salah satu bangunan yang selamat dari terjangan ombak besar tsunami. 




Kemana lagi kita bang ?. Ada satu lagi kata siabang becak, Cuma tempatnya agak jauh. Ke pantai Lampuuk. Disana semua bangunan hancur luluh kecuali ada satu masjid namanya masjid Rahmatullah. Lebih kurang setengah jam kesana. Melihat jam sekitar jam lima sore, kami memutuskan untuk ke sana. Lanjut bang.

Siabang becak terus aja bercerita tentang tsunami. Di perjalanan kami melihat rumah Tjut Nyak Din yang cantik dan warung warung yang menjual oleh oleh. Kata siabang, jalan yang kami lalui ini merupakan jalan menuju ke Melaboh dan Aceh Selatan. Tak berapa lama setelah melewati rumah tjut nyak din, becakpun berbelok ke kanan menuju pantai Lempuuk yang berpasir putih indah. Namun mengingat waktu menjelang maghrib, kami hanya singgah di masjid Rahmatullah yang fotonya terpampang di museum tsunami tadi. Masjid Rahmatullah ini terletak di daerah Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.


Kami hanya menyempatkan diri ikut sholat maghrib berjemaah di masjid yang telah direnovasi itu. Selesai sholat kuperhatikan bagian dalam masjid itu. Ada tiang yang retak efek gempa dan tsunami yang dibiarkan untuk mengingat kejadian maha dahsyat itu.

Hari sudah mulai gelap. Kami meninggalkan kawasan pantai Lempuuk menuju kembali ke kota. Cukup jauh juga perjalanan mutar mutar hari ini. Setelah sampai kota Banda Aceh, siabang becak menyempatkan juga singgah di Rumah adat Aceh dan makam pahlawan Sultan Iskandar Muda yang letaknya berdekatan. Lalu singgah di salah satu restoran untuk makan malam. Terakhir dihantar kembali ke penginapan. Berapa ongkosnya bang ?. Sambil tersenyum siabang mengatakan Rp 250,000,- saja. Mengingat jarak yang cukup jauh, tanpa tawar kamipun membayarnya.
Oke, jalan-jalan keliling kota banda Aceh sudah, saatnya istirahat, karena habis subuh besok kami harus bergerak ke pelabuhan Uleelheue berburu tiket fery trip pertama menuju pulau Weh.(bersambung).

Kamis, 04 Januari 2018

Perjalanan Murah Meriah ke Pulau Weh (2)







Sekitar jam enam pagi kami sudah chek out dari penginapan. Agar cepat sampai di pelabuhan penyeberangan Uleelheu, kamipun menggunakan transportasi online Grab. Ternyata sudah ramai orang yang mengantri tiket ferry. Ada dua jenis ferry dari Banda Aceh ke Pulau Weh. Pertama Ferry Cepat dan satu lagi Ferry lambat.
Kami menggunakan Ferry cepat yang berangkat jam 08:00  dengan maksud agar cepat sampai di Pulau Weh. Untuk trip kedua akan berangkat pukul 10:00 dan pukul 16:00. Ferry ini hanya mengangkut orang dan waktu tempuhnya hanya sekitar 45 menit. Tiketnya Rp 80,000,-.



Sementara ferry lambat lebih besar dan juga mengangkut mobil pribadi. Berangkatnya jam 07:30 dan jam 16:00. Memakan waktu sekitar dua jam diperjalanan. Harga tiketnya Cuma Rp 25,000,- saja.
Sekitar jam 09:00 tibalah kami di pelabuhan Balohan Pulau Weh. Dari pelabuhan ferry ini ke kota sabang masih sekitar satu jam lagi. Ada kenderaan mini bus L300, becak dan mobil rental. 



Untuk keliling pulau weh, menggunakan mobil rental dikenakan Rp 800,000,-. Sementara naik becak mesin Cuma Rp 250,000. Kami memutuskan naik becak motor saja. Tujuan pertama kami adalah kawasan wisata pantai Ibuih dan Kilometer Nol.Kesepakatan dengan penarik becak Rp 200,000,-.  Memang agak jauh juga perjalanan yang kami tempuh. Sekitar dua jam sampailah kami di Ibuih. Lalu tukang becak mencarikan kamar. Maklumlah hari libur, agak susah juga mendapatkannya walau disini banyak penginapan. Akhirnya dapat juga kamar dengan tarif Rp 300,000,-.  Untuk satu malam.Kamarnya cukup besar walau non AC. 



Setelah meletakkan tas, kami melanjutkan perjalanan ke kilometer Nol yang berjarak 8 kilometer dari Ibuih. Setelah foto-foto, kamipun kambali ke penginapan di Ibuih. Setelah makan siang, kamipun menyeberang ke Pulau Rubiah yang terletak didepan pantai Ibuih. Sebelum menyeberang, kami membeli tiket perahu yang membawa kami ke seberang. Tiga orang tiket PP nya Rp 150,000,-. Selanjutnya menyewa pelampung seharga Rp 40,000,-/per orang. Dari Ibuih ke pulau Rubiah nggak dekat saja, nggak sampai setengah jam udah sampai. 



Di Pantai pulau Rubiah inilah banyak orang yang mandi mandi serta menyelam menikmati terumbu karang. Menjelang maghrib kamipun menyeberang kembali ke penginapan di Ibuih. 



Keesokan harinya sekitar jam 11:00 kami sudah dijemput oleh abang becak yang kami pesan kemarin. Namun kali ini, abang beca membawa kami mutar mutar sambil menyinggahi beberapa pantai yang ada di kota Sabang. Lalu berakhir di pelabuhan ferry Balohan. 



Untuk kembali ke Banda Aceh. Kapal cepat berangkat jam 08:00, 10:00, 14:00 dan jam 16:00. Sementara kapal lambat berangkat jam 07:30 dan jam 02:00. Kali ini kami menggunakan kapal ferry lambat saja yang bergerak pukul 02:00. Harga tiket perginya sama saja dengan tiket pulangnya.




Dua jam di perjalanan, sampailah kami di Banda Aceh. Mengingat jam baru sekitar pukul 16:00,sementara keberangkatan bus ke Medan pada pukul 20:00, maka waktu yang tersisa kami gunakan menikmati keindahan pantai uleelhue sambil menyantap jagung bakar plus air kelapa muda yang banyak dijual di warung tepi pantai itu. Menjelang mghrib, kami memesan transportasi online yang menghantarkan kami ke terminal bus terpadu Batoh Banda Aceh dengan tarif  75,000,-.
Ya, malam  menyambut tahun baru 2018 kami mulai di terminal Banda Aceh dan sepanjang perjalanan menuju kembali ke kota Medan.