Kamis, 21 Juni 2018

Perjalanan ke Samudera Pasai






Bagi yang pernah belajar sejarah, nama Samudera Pasai tentu tak asing lagi. Namun tak sedikit yang tahu dimana persisnya daerah itu. Untuk itu, pada libur lebaran tahun 2018 ini, aku mencoba untuk mendatangi lokasi yang pernah disinggahi oleh Marco Polo, Ibnu Batutah hingga Panglima ChengHo. 

Langkah awal yang aku lakukan tentu memesan tiket Bus dari Medan menuju kota Lhokseumawe di Provinsi Aceh Utara. Aku memilih Bus Sempati Star Double Decker alias bus bertingkat dua. Letak Pool bus ini berada di jalan asrama nomor 16 Pondok kelapa Medan. Untuk tujuan Lhokseumawe harga tiketnya Rp 200,000,-. Namun disebabkan suasana lebaran harga tiketnya naik menjadi Rp 250,000,-. 



Tanggal 16 Juni 2018, tepatnya jam 22:00 malam, bus bergerak meninggalkan kota Medan. AC bus yang cukup dingin membuatku tertidur lebih cepat. Singkat cerita, menjelang waktu subuh, bus sudah hampir memasuki kota Lhokseumawe.
Sekitar 20 kilo meter sebelum tiba di terminal bus Lhokseumawe terdapat suatu daerah bernama Geudong. Seharusnya aku berhenti disini. Dan dari simpang ini aku melanjutkan perjalanan naik becak atau ojek menuju desa Beuringin kecamatan Samudera. 

Namun karena suasana masih subuh dan masih gelap, aku melewatkan simpang Geudong ini dan mengikuti bus hingga berhenti di terminal Bus kota Lhokseumawe. Sekitar pukul 06:00 pagi bus berhenti di terminal.
Aku berfikir, pagi-pagi seperti ini aku mau kemana ya ?. Akhirnya aku memanggil sebuah becak mesin dan meminta menghantarku ke kawasan Islamic Center yang terletak di pusat kota Lhokseumawe. Ongkos becaknya Cuma Rp 10,000,-. Hanya hitungan menit akupun sampai di lapangan Hiraq yang terdapat di kompleks Islamic center. 


Untuk menunggu terbitnya matahari, aku menyempatkan diri untuk sarapan lontong terlebih dahulu. Kunikmati suasana pagi di kota ini hingga pukul delapan pagi. Dari tempatku sarapan dikawasan Islamic Center, aku melihat sebuah masjid tua bernama Baiturrahman yang berjarak sekitar 100 meter saja. Aku berjalan menuju kesitu lalu berjalan membelok ke kiri. 

Sekitar 100 meter dari masjid tua itu terdapat jalan Baiturrahiim. Akupun memasuki jalan itu Dijalan Baiturrahim no 16 ini aku memasuki sebuah wisma penginapan bernama Wisma Batu Karang. Ya disinilah aku akan menginap pada malam ini. Dengan merogoh kocek Rp 250,000,- kunci kamarpun berada di genggaman tanganku.
Setelah mendapatkan kamar untuk menginap, aku meninggalkan wisma ini. Aku memanggil becak mesin untuk menuju ke Samudera Pasai. Setelah tawar menawar kami sepakat pada angka Rp 100,000,-  Pergi dan Pulang  ke kawasan Samudera Pasai.
Becakpun meluncur menuju ke arah Timur. Ke  arah yang tadi aku lewati sebelum masuk ke kota Lhokseumawe.   


Diperjalanan aku melihat Kampus IAIN, Rumkit Cut Meutia hingga Politeknik NegeriLhokseumawe. Tak lama kemudian tibalah disebuah pajak yang terletak di daerang Geudong. Dari Simpang Geudong, becak membelok ke kiri dan terus berjalan hingga sekitar 2 kilo meter. 

Tibalah aku di desa Beuringin kecamatan Samudera. Becak memasuki kawasan perkuburan muslim. Disinilah terdapat kuburan pendiri kerajaan Samudera Pasai. Aku menziari kuburan yang ditutup kelambu berwarna hijau. Dibatu nisannya tertulis nama Sultan Malik Assalih. Dialah pendiri kerajaan Samudera Pasai. 



Setelah mendapat informasi, aku melanjutkan ke Museum Islam yang terletak bersebelahan dengan lokasi perkuburan. Tepat didepan museum kini telah berdiri pula sebuah menara pandang yang cukup megah. Dari atas menara itu aku melihat tepi pantai yang tak terlalu jauh. Aku berfikir, di pantai itulah dahulunya kapal-kapal pedagang bersandar. Singkat cerita, setelah cukup informasi yang kucari, akupun kembali ke penginapan.


Jumat, 05 Januari 2018

Perjalanan Murah Meriah ke Pulau Weh (1).





Bagi back packer pencinta alam, datangnya masa liburan merupakan hal yang dinantikan. Begitu juga dengan kami. Liburan menjelang tahun baru 2018 barusan kami memberanikan diri melangkahkan kaki menuju Pulau Weh di provinsi Aceh. Sebuah pulau yang belum pernah kami kunjungi. Terletak di ujung utara Pulau Sumatera.


Ada beberapa pilihan transportasi dari Medan menuju kesana, seperti dengan pesawat, rental mobil. Namun kami pilih yang ongkosnya sesuai dengan kantong ajalah he..he..he.. Ya tentu naik bus saja. Ada beberapa bus dari Medan ke Banda Aceh. Seperti Bus Kurnia, PMTOH, Sempati dsb. Mengingat waktu diperjalanan sekitar 12 jam, maka kamipun memutuskan untuk berangkat malam. Hampir semua bus bergerak antara jam 20:00 s/d 09:00. 



Adapun tarif ongkosnya sesuaikan aja dengan isi dompet. Ada bus eksekutif  ongkosnya Rp 250,000. Ada yang patas ongkosnya RP 200,000,-. Walau kami pilih yang patas, namun kondisi busnya Oke kok. Memang semua bus Medan ke Banda Aceh keluaran Marcedes Benz. Toplah pokoknya. Oke kami bergerak meninggalkan kota Medan Pada hari Kamis malam Jumat(28/12/2017). 




Singkat cerita, sekitar jam 09:00 pagi, sampailah di terminal bus terpadu Batoh Banda Aceh. Langsunglah kami pesan tiket bus untuk pulang ke Medan tanggal 31 Desember jam 08:00 seharga Rp 180,000/orang. Kami langsung didekati tukang ojek dan tukang becak yang menawarkan jasanya. Maklumlah pertama kali ke Aceh, masih bingung juga. Kamipun keluar terminal mencari warung sarapan plus mencicipi kopi Aceh.


Sambil menikmati sarapan pagi, kami mencari informasi dari penduduk setempat bagai mana menuju ke Pulau Weh. Bak kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan. Dari Informasi yang didapat kami akan sampai ke Sabang sore hari, mengingat jadwal keberangkatan Fery menyeberang kesana tidak terlalu banyak.




Kamipun memutuskan menginap malam ini di kota Banda Aceh. Ya sasaran pertama tentu mencari penginapan. Tenang aja,banyak transportasi untuk menemukan penginapan. Transportasi online seperti Go Car dan Grab sudah ada. Namun untuk lebih menikmati kota Banda Aceh, kami naik becak ajalah. Setelah mutar mutar kesana kemari akhirnya ketemu juga penginapannya. Maklumlah musim libur, beberapa hotel penuh. Menginaplah kami di hotel M Mulana di Jl Tgk Dianjong Keudah Banda Aceh. Satu kamar bertiga dengan tarif Rp 300,000,- Pake AC, pesawat TV dan disediain wifi udah tergolong murahlah ya. Urunan ya cuma Rp 100,000 per orang he..he..he...



Ngapain lama lama di kamar, ya langsunglah melalak mau tengok tengok kota Banda Aceh. Tapi mau kemana ?. Tenang, tinggal buka aplikasi google map. Oh ternyata penginapannya gak jauh dari masjid raya Baiturrahman. Ya jalan santai ajalah dan ternyata hanya hitungan menit saja udah sampai. 



Dari spanduk yang ada dipagar masjid, dapat informasi bahwa tanggal 26 Desember barusan diadakan peringatan mengenang tsunami 13 tahun yang lalu (2004). Langsung terbersit di pikiran untuk melihat situs atau bekas bekas peninggalan tsunami itu. Maka diputuskanlah bahwa tujuan pertama mengunjungi museum tsunami yang tak jauh dari masjid raya Baiturrahman ini. 



Naik transportasi online atau becak ya. Lagi lagi becak yg jadi pilihan, biar lebih luas dan menikmati pemandangan kota. Syukur ketemu tukang becak yang ramah dan pintar. Tukang becak menawarkan untuk mengunjungi semua situs tsunami yang ada di kota Banda Aceh dan sekitarnya. Berapa ongkosnya pak ?. Iya menjawab :” nanti aja, yang penting kita mutar mutar mendatangi semua bekas tsunami. Setelah mikir sekejap, oke pak lets’go.


Pertama dibawalah kami ke Museum Tsunami melihat foto - foto yang bercerita tentang kejadian tsunami . Setelah cukup informasi dari museum, kami keluar menemui tukang becak yang setia menunggu, he..he..he.. iyalah ongkosnyakan nanti di akhir bayarnya. Oke pak lanjut, kemana kita lagi ?. “Ke kapal Apung” kata siabang becak. Hanya hitungan menit kulihatlah kapal besar yang terdampar di tengah pemukiman penduduk. Tak dapat kubayangkan bagaimana besarnya ombak saat tsunami itu yang menyerat kapal PLTD milik PLN dari laut ke kota. Ya udahlah, tinggal ambil hape.. berfoto cekrek..cekrek..


Lanjut bang. Kamana lagi kita. Abang becakpun menghantarkan kami ke kuburan massal yang tak jauh dari kapal apung itu. Oke lanjut bang. Kamipun di bawa ke sebuah pemukiman penduduk yang di lokasi itu terdampar kapal milik TNI AL yang terdampar dalam posisi miring. Oke lanjut bang. Kamipun di bawa lagi menuju perahu yang tersangkut di atas rumah penduduk yang terletak di daerah Lampulo.



Oke bang lanjut. Kamipun dibawa lagi menuju kawasan Muara. Disini kami menjumpai kawasan pekuburan seorang ulama terkenal beserta beberapa kuburan murid-muridnya. Ulama itu bernama ‘Abdul rauf atau dikenal juga dengan ulama Syiah Kuwala. Menurut penjaganya, lokasi yang terletak ditepi pantai itu habis luluh lantak oleh terjangan ombak tsunami, kecuali batu nisan ulama ini.



Oke bang lanjutkan perjalanan kita. Kamipun dibawa kembali dibawa ke kota melewati pelabuhan Uleelhue. Sepanjang perjalanan si abang becak terus aja bercerita tentang kejadian tsunami yang dialaminya langsung saat itu. Disaat tiba dipersimpangan siabang berhenti di depan masjid Baiturrahiim yang merupakan salah satu bangunan yang selamat dari terjangan ombak besar tsunami. 




Kemana lagi kita bang ?. Ada satu lagi kata siabang becak, Cuma tempatnya agak jauh. Ke pantai Lampuuk. Disana semua bangunan hancur luluh kecuali ada satu masjid namanya masjid Rahmatullah. Lebih kurang setengah jam kesana. Melihat jam sekitar jam lima sore, kami memutuskan untuk ke sana. Lanjut bang.

Siabang becak terus aja bercerita tentang tsunami. Di perjalanan kami melihat rumah Tjut Nyak Din yang cantik dan warung warung yang menjual oleh oleh. Kata siabang, jalan yang kami lalui ini merupakan jalan menuju ke Melaboh dan Aceh Selatan. Tak berapa lama setelah melewati rumah tjut nyak din, becakpun berbelok ke kanan menuju pantai Lempuuk yang berpasir putih indah. Namun mengingat waktu menjelang maghrib, kami hanya singgah di masjid Rahmatullah yang fotonya terpampang di museum tsunami tadi. Masjid Rahmatullah ini terletak di daerah Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.


Kami hanya menyempatkan diri ikut sholat maghrib berjemaah di masjid yang telah direnovasi itu. Selesai sholat kuperhatikan bagian dalam masjid itu. Ada tiang yang retak efek gempa dan tsunami yang dibiarkan untuk mengingat kejadian maha dahsyat itu.

Hari sudah mulai gelap. Kami meninggalkan kawasan pantai Lempuuk menuju kembali ke kota. Cukup jauh juga perjalanan mutar mutar hari ini. Setelah sampai kota Banda Aceh, siabang becak menyempatkan juga singgah di Rumah adat Aceh dan makam pahlawan Sultan Iskandar Muda yang letaknya berdekatan. Lalu singgah di salah satu restoran untuk makan malam. Terakhir dihantar kembali ke penginapan. Berapa ongkosnya bang ?. Sambil tersenyum siabang mengatakan Rp 250,000,- saja. Mengingat jarak yang cukup jauh, tanpa tawar kamipun membayarnya.
Oke, jalan-jalan keliling kota banda Aceh sudah, saatnya istirahat, karena habis subuh besok kami harus bergerak ke pelabuhan Uleelheue berburu tiket fery trip pertama menuju pulau Weh.(bersambung).