Bagi yang pernah belajar sejarah, nama
Samudera Pasai tentu tak asing lagi. Namun tak sedikit yang tahu dimana
persisnya daerah itu. Untuk itu, pada libur lebaran tahun 2018 ini, aku mencoba
untuk mendatangi lokasi yang pernah disinggahi oleh Marco Polo, Ibnu Batutah
hingga Panglima ChengHo.
Langkah awal yang aku lakukan tentu memesan tiket Bus
dari Medan menuju kota Lhokseumawe di Provinsi Aceh Utara. Aku memilih Bus
Sempati Star Double Decker alias bus bertingkat dua. Letak Pool bus ini berada
di jalan asrama nomor 16 Pondok kelapa Medan. Untuk tujuan Lhokseumawe harga
tiketnya Rp 200,000,-. Namun disebabkan suasana lebaran harga tiketnya naik
menjadi Rp 250,000,-.
Tanggal 16 Juni 2018, tepatnya jam 22:00 malam, bus
bergerak meninggalkan kota Medan. AC bus yang cukup dingin membuatku tertidur
lebih cepat. Singkat cerita, menjelang waktu subuh, bus sudah hampir memasuki kota
Lhokseumawe.
Sekitar 20 kilo meter sebelum tiba di terminal bus
Lhokseumawe terdapat suatu daerah bernama Geudong. Seharusnya aku berhenti
disini. Dan dari simpang ini aku melanjutkan perjalanan naik becak atau ojek
menuju desa Beuringin kecamatan Samudera.
Namun karena suasana masih subuh dan masih gelap,
aku melewatkan simpang Geudong ini dan mengikuti bus hingga berhenti di
terminal Bus kota Lhokseumawe. Sekitar pukul 06:00 pagi bus berhenti di terminal.
Aku berfikir, pagi-pagi seperti ini aku mau kemana
ya ?. Akhirnya aku memanggil sebuah becak mesin dan meminta menghantarku ke
kawasan Islamic Center yang terletak di pusat kota Lhokseumawe. Ongkos becaknya
Cuma Rp 10,000,-. Hanya hitungan menit akupun sampai di lapangan Hiraq yang
terdapat di kompleks Islamic center.
Untuk menunggu terbitnya matahari, aku menyempatkan
diri untuk sarapan lontong terlebih dahulu. Kunikmati suasana pagi di kota ini
hingga pukul delapan pagi. Dari tempatku sarapan dikawasan Islamic Center, aku
melihat sebuah masjid tua bernama Baiturrahman yang berjarak sekitar 100 meter
saja. Aku berjalan menuju kesitu lalu berjalan membelok ke kiri.
Sekitar 100 meter dari masjid tua itu terdapat jalan
Baiturrahiim. Akupun memasuki jalan itu Dijalan Baiturrahim no 16 ini aku
memasuki sebuah wisma penginapan bernama Wisma Batu Karang. Ya disinilah aku
akan menginap pada malam ini. Dengan merogoh kocek Rp 250,000,- kunci kamarpun
berada di genggaman tanganku.
Setelah mendapatkan kamar untuk menginap, aku
meninggalkan wisma ini. Aku memanggil becak mesin untuk menuju ke Samudera
Pasai. Setelah tawar menawar kami sepakat pada angka Rp 100,000,- Pergi dan Pulang ke kawasan Samudera Pasai.
Becakpun meluncur menuju ke arah Timur. Ke arah yang tadi aku lewati sebelum masuk ke
kota Lhokseumawe.
Diperjalanan aku
melihat Kampus IAIN, Rumkit Cut Meutia hingga Politeknik NegeriLhokseumawe. Tak
lama kemudian tibalah disebuah pajak yang terletak di daerang Geudong. Dari
Simpang Geudong, becak membelok ke kiri dan terus berjalan hingga sekitar 2
kilo meter.
Tibalah aku di desa Beuringin kecamatan Samudera.
Becak memasuki kawasan perkuburan muslim. Disinilah terdapat kuburan pendiri
kerajaan Samudera Pasai. Aku menziari kuburan yang ditutup kelambu berwarna
hijau. Dibatu nisannya tertulis nama Sultan Malik Assalih. Dialah pendiri
kerajaan Samudera Pasai.
Setelah mendapat informasi, aku melanjutkan ke
Museum Islam yang terletak bersebelahan dengan lokasi perkuburan. Tepat didepan
museum kini telah berdiri pula sebuah menara pandang yang cukup megah. Dari
atas menara itu aku melihat tepi pantai yang tak terlalu jauh. Aku berfikir, di
pantai itulah dahulunya kapal-kapal pedagang bersandar. Singkat cerita, setelah
cukup informasi yang kucari, akupun kembali ke penginapan.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar