Kamis, 26 Februari 2015

Puncak Lawang


Setelah melakukan jalan santai sepanjang jenjang 1000 di Ngarai Sianok, Bus Pariwisata yang kami carter meninggalkan kota Bukit Tinggi. Kami melewati jalan kampung yang berliku – liku. Dibeberapa tempat aku melihat beberapa rumah penduduk yang mengeluarkan asap. Setelah kucari tahu, ternyata di rumah itu memproduksi gula saka. Gula saka merupakan gula yang dibuat dari nira asli pohon aren.

 Sekitar dua jam lebih, kamipun sampai di Puncak Lawang. Ooh indah sekali pemandangannya. Nun jauh dibawah sana kelihatan danau maninjau yang sebagiannya ditutupi oleh awan.  Jadi kami berada diatas permukaan awan. Di daerah itulah seorang Ulama terkenal bernama buya Hamka dilahirkan. Bagi yang berminat dengan outbond, di Puncak Lawang ada lho. Begitu juga bagi peminat para layang, terdapat juga  di lokasi ini.


Sementara aku dan rombongan hanya duduk – duduk saja sambil menikmati keindahan alamnya. Walau alamnya begitu indah, namun akomodasi seperti hotel tak ada disini. Begitu juga dengan kenderaan umum tak ku lihat ada yang sampai disini.

Kelok 44

Setelah puas menikmati keindahan alam di Puncak Lawang, maka kamipun bergegas menaiki bus pariwisata itu. Kami segera meninggalkan Puncak Lawang, namun melewati jalan yang berbeda. Kami melewati jalan berkelok – kelok yang dikenal dengan nama kelok 44.

Dinamakan Kelok 44 karena jumlah kelokannya sebanyak 44 kali. Sepanjang kelok 44 yang menurun itu, kami meihat plank yang bertuliskan Asmaul Husna sebanyak 99 buah. Jalan terus saja menurun hingga kami mendekati air danau maninjau. Sesampai kami di sebuah kampung ditepi danau maninjau, kami berhenti membeli cemilan khas daerah ini.



Karena bus berhenti di dekat danau, aku menyempatkan diri untuk mendekati air danau. Tapi alangkah terkejutnya aku setelah melihat  terdapat ikan – ikan mati mengapung dipermukaan air danau. Ikan – ikan yang telah mati itu menimbulkan bau amis yang tak mengenakkan. Sungguh sangat kusayangkan, danau seindah ini tercemari oleh ulah sekelompok orang.

Ke Pantai Gondariah


Bus kembali bergerak menuju kota Padang Pariaman.Jalan raya yang kami lewati sudah tidak berliku lagi. Haripun sudah mulai petang disaat kami melalui jalan raya di pinggir laut. Kamipun sampai di Pusat kota Padang Pariaman tepatnya di stasiun kereta api. Tepat didepan stasiun itu terdapat lokasi wisata pantai yang oleh warga setempat disebut “Pantai Gondariah”.


Disepanjang pantai gondariah, kami mendapati  banyak peduduk berjualan makanan dan minuman. Enak juga menikmati matahari terbenam di pantai yang kebersihannya dijaga oleh penduduknya. Duduk dibawah payung sambil menikmati air kelapa muda, aku memandang pulau Angsa yang terletak didepanku. Katanya di pulau itu terdapat penangkaran penyu. Namun dikarenakan hari telah mulai maghrib, kami tidak jadi menyeberang ke pulau itu. Dari Pantai ini kami akan kembali pulang ke rumah tanteku di kota Padang. Puas rasanya jalan – jalan keliling sumatera barat hari ini. 

Rabu, 25 Februari 2015

Jenjang 1000 koto Gadang

6.Ke Jenjang 1000


Pagi  itu cuaca di kota Padang Panjang Cukup cerah. Kami yang menginap di  rumah gadang sibuk mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan tour keliling Sumatera Barat. Ada yang mandi, sarapan lontong dan sebagainya. Sebelum jam 07:00 pagi sumua sudah siap dan  menanti kedatangan bus pariwisata yang akan menjemput.



Bukit Tinggi kotanya berbukit – bukit. Dari Lokasi yang disebut Panorama, kami dapat menyaksikan indahnya Ngarai Sianok dipagi hari. Kami akan melanjutkan kegiatan dengan berjalan santai menuruni Ngarai sianok itu hingga ke Koto gadang yang ada di bagian bawah Ngarai itu.



Kegiatan jalan santai ini dimulai dari Gua Jepang yang letaknya tak terlalu jauh dari pelataran Jam Gadang. Gua Jepang adalah gua atau lobang peninggalan bangsa Jepang disaat mereka menjajah bangsa Indonesia. Konon ceritanya, digua itulah bangsa Jepang bersembunyi, menyimpan makanan dan senjata perang serta tempat penyiksaan orang pribumi yang melawan kebijakan mereka.



Kamipun menyusuri lokasi jalan santai yang diselimuti embun. Jalan setapak ini dahulunya digunakan penduduk desa Koto Gadang yang ada didasar ngarai sianok untuk membawa barang dagangannya menuju pajak di sekitar Jam Gadang. Begitu pula jalan setapak ini dahulunya digunakan oleh para pejuang Indonesia seperti pejuang H. Agoes Salim untuk melakukan perlawanan terhadap bangsa penjajah. Untuk mengenang itu semua, maka jalan setapak ini di jadikan pemerintah daerah sebagai tempat wisata yang diberi nama janjang seribu. Janjang artinya anak tangga. Kondisinya mirip tembok besar yang ada di China. Kalau dahulu merupakan jalan tanah, tapi kini sudah dilapisi semen.


Adapun jarak tempuh yang harus kami lalui berkisar tiga kilometer. Sebenarnya route perjalanannya di mulai dari Koto Gadang menuju ke gua Jepang. Namun karena tadi kami ke jam gadang terlebih dahulu, maka kami melawan arus. Tapi tak apalah, karena tak ada peraturan yang melarangnya. Lokasi ini sering dijadikan tempat jalan santai sejak diresmikan oleh Menteri Depkominfo Tifatul Sembiring diera pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY)



Kami melewati ngarai atau dasar lembah, dan sesekali melewati beberapa jembatan yang ada disini. Terbayang dalam pikiranku, bahwa beginilah susahnya perjalanan orang Koto Gadang zaman dahulu pergi menjual hasil bumi ke pajak di Bukit Tinggi. Memang sih ada jalan lainnya menuju kesana, tapi jarah tempuhnya sangat jauh. Mendekati Koto Gadang kami terpaksa harus menaiki ribuan anak tangga. Tapi tetap mengasyikkan lho. Nggak percaya?. yaa udah datang dan buktikan aja sendiri he..he..he...


Bus Pariwisata yang menjemput kami tak dapat masuk hingga ke depan jenjang 1000. Bus itu menunggu kami di depan rumah adat anak negeri minang yang terdapat di Koto Gadang. Tentu saja dikarenakan jalan menuju lokasi itu terlalu kecil untuk sebuah bus. Tapi buat mobil pribadi tentu dapat masuk hingga ke pintu Jenjang Seribu. Udah dulu yaa, ntar kami mau bersiap - siap hendak ke Puncak Lawang diatas Danau Maninjau.


bersambung :)

Jam gadang, kelok 9 , Harau

3. Ke Jam Gadang Bukit Tinggi


(Gambar : Keluarga Besar Serumpun )

Sungguh nyenyak tidurku di rumah gadang ini tadi malam. Maklumlah kemaren seharian kami jalan – jalan ke danau kembar dan danau Singkarak. Pagi ini kami akan melanjutkan perjalanan berkeliling di Sumatera Barat. Tujuan hari ini adalah melihat jam Gadang, lalu ke fly over kelok 9 dan menikmati pemandangan Bukit Harau di Batu Sangkar.


Sambil menanti kedatangan bus itu, kami menyempatkan diri untuk berfoto ria di depan rumah yang terbilang antik itu. Tak berapa lama, bus yang dinantipun telah datang. Tujuan pertama adalah mengunjungi Jam Gadang yang terdapat di Bukit Tinggi. Lebih kurang satu jam, kamipun tiba di pelataran Jam Gadang yang dibangun sejak masa penjajahan Belanda.


Pagi itu suasana jam gadang cukup ramai. Beberapa penduduk kota Bukit Tinggi terlihat sedang melakukan senam kebugaran yang diiringi musik India. Mau tau lagu apa yang diputar ?, ya  lagu “Chaiya - Chaiya” yang dibawakan Sahrukh Khan dalam film Dilse. Suasana mendadak heboh, disaat rombongan kami turut serta mengikuti gerakan senam kebugaran  itu.

(Gambar :Bersama Tante dan sepupuku ) 

Ini juga merupakan kali pertama aku menjejakkan kaki ke lokasi ini. Tepat di depan  pelataran Jam Gadang itu aku melihat sebuah gedung yang dari plank namanya disebutkan bahwa itu adalah Istana Bung Hatta. Ia  seorang mantan wakil presiden RI pada masa presiden Soekarno.  Hebat juga ya, salah  seorang warga bukit tinggi ini menjadi wakil presiden pertama di Indonesia.


Kami sempatkan untuk berfoto ria bersama para badut yang lucu – lucu. Badut itu yang mengajak kami untuk foto bersama. Tapi nggak enaknya para badut itu pula yang minta duit karena berfoto sama mereka. Padahalkan mereka yang ngajak, tapi tak apalah he..he..he... Lalu kami membeli cendera mata khas Sumatera Barat di pajak dekat Jam Gadang itu. Ada yang membeli pernak – pernik, makanan ringan seperti kerupuk sanjai dan lain sebagainya. Selanjutnya, kami berencana menuju dan menikmati apa saja yang ada di  daerah Batu Sangkar.

(Gambar : Ayahku Lagi Pasang Aksi di kelok 9 he..he..he.. )

4. Ke Fly Over Kelok Sembilan

Bus mengarah ke Bukit Tinggi lalu berbelok ke kanan. Diperjalanan aku  melihat kampus Sekolah Tinggi  Pendidikan Dalam Negeri (STPDN). Sekolah ini dihuni para mahasiswa yang mendapatkan ikatan dinas oleh kementrian dalam negeri Republik Indonesia. Enak ya, udah nggak bayar uang kuliah, diberi perlengkapan kuliah, berasrama, diberi uang saku, dan enaknya setelah diwisuda langsung diangkat menjadi PNS  di lingkungan Kementrian Dalam Negeri. Tapi aku nggak tertarik belajar disini, karena aku punya cita – cita yang lain.


 Setelah beberapa jam diperjalanan, kami tiba di kelok sembilan batu sangkar. Ini merupakan jalan yang menghubungkan kota Bukit Tinggi di Sumatera Barat menuju kota Pekan Baru di provinsi Riau. Dahulunya Kelok 9 merupakan jalan berkelok yang cukup membahayakan kenderaan yang melintasinya. Dinamakan kelok 9 ya jumlah kelokannya ada sembilan kali, ya itu aja. Tapi untuk memudahkan para pengguna jalan, maka pada era pemerintahan SBY, di buatlah fly over atau jembatan layang yang lebar jalannya cukup luas.

Kegiatan disini ya Cuma menikmati pemandangan alam saja. Biasanya jembatan layang dibangun untuk mengatasi kemacetan di inti kota. Kalau di Jakarta yang terkenalkan jembatan layang Semanggi, tapi disini jembatan layangnya berada di pinggir hutan, lucu ya he..he..he.. Tapi sekedar untuk merasakan sensasi kelok 9 yang lama, kita dapat melewatinya. Karena kelok 9 yang lama tidak ditutup, namun udah jarang dilalui kendaraan, kecuali bagi yang ingin mencobanya saja. Termasuklah bus rombongan kami yang mencoba melewatinya.

5.Ke Bukit Harau


Setelah puas di kelok sembilan, kami berbalik arah kembali. Tujuan kali ini ke daerah Harau. Kami menyaksikan kumpulan bukit – bukit yang terjal. Namun bedanya bukit disini dengan bukit di tempat lain, kalau disini bukitnya tandus. Jadi yang kelihatan bukit berupa batu – batu cadas yang ukurannya sangat besar sekali. Lokasinyapun tak terlalu jauh dari kelok 9 tadi.


Mau ngapain aja disini?. Ya melihat – lihat bukit tandus itulah ha..ha..ha, tapi disini juga terdapat beberapa air terjun yang mengalir menuruni dinding bukit cadas itu. Aku yakin airnya jernih, namun karena pengunjung yang mandi terlalu banyak, maka menjadikan air di kolam pemandiannya menjadi keruh.

Bagi yang hobby berkemah, disini juga disediakan camping area yang cukup bersih dan aman. Apalagi yang hobby panjat tebing, ya disini tempatnya, tinggal pilih aja tebing yang mana yang mau dipanjat. Aku hanya mencoba fasilitas outbond sajalah. Guna menghindari rasa takut, disaat meluncur aku berteriak “aaauuuuoookkkk” menirukan suara tarzan yang di film – film itu wkwkwk.


Menjelang sore hari, kami meninggalkan lokasi kembali ke basecamp rumah gadang di Padang Panjang. Sampai di Padang Panjang haripun telah malam. Agar tidak kelaparan di penginapan nantinya, kami singgah terlebih dahulu di pajak Padang Panjang. Dimalam hari lokasi ini banyak sekali terdapat gerai – gerai makanan. Siapa yang tak kenal masakan minang, semua yang dijajakan cukup mengunggah selera. Sate Padang hingga nasi kapau ada disini. Walaupun di pajak, namun menunya nggak kalah sama menu restaurant minang di kota Medan.


Setelah kenyang, maka kamipun kembali ke penginapan untuk beristirahat. Sebenarnya aku ingin langsung tidur malam ini. Tapi karena ramai dan hanya sesekali kumpul keluarga, aku ikut gabung sekedar  mengobrol sambil bercanda tawa hingga larut malam. Padahal besok kami masih akan melanjutkan perjalanan menuju janjang seribu di ngarai sianok dan ke Puncak Lawang diatas danau Maninjau. Udah dulu ya ceritaku hari ini.ZZZzzzzzzz.....

                                                   

Danau Singkarak





Setelah meninggalkan Danau Kembar, bus pariwisata yang kami tumpangipun melaju ke jalan raya melewati Kabupaten Solok. Bus berbelok ke kanan disertai guyuran hujan. Tujuan perjalanan  kali ini adalah menuju ke Danau Singkarak. Sepanjang perjalanan aku asyik menyaksikan setiap panorama alam yang kulewati. Hamparan sawah dan ladang terbentang luas disepanjang perjalananku.

Danau Singkarak merupakan salah satu danau terbesar di Sumatera Barat. Untuk memperkenalkan danau ini, maka salah satu even yang digelar Pemda Sumbar adalah dengan mengadakan perlombaan “Tour de Singkarak”. Tour de singkarak adalah ajang perlombaan balap sepeda tingkat internasional. Aku yakin daerah ini pasti ramai dikunjungi oleh turis disaat berlangsungnya perlombaan tersebut. Cukup banyak atlit balap sepeda yang turut serta dalam ajang perlombaan ini, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri.


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, maka bus pariwisata yang kami tumpangi sampai di Danau Singkarak. Memang fasilitas dan akomodasi buat para turis tidak seheboh apa yang ada di Danau Toba. Disini tidak banyak terdapat penginapan untuk para pengunjung. Aku hanya melihat banyak turis lokal yang berdarmawisata di pinggir danau ini. Padahal menurutku, danau ini cukup indah dan mempunyai potensi untuk dikembangkan.


Sebenarnya aku ingin sekali berenang atau berendam di danau ini. Maklumlah, karena ini pertama kali aku menginjakkan kaki kesini. Namun dikarenakan angin berhembus cukup kencang, membuat air danau menimbulkan ombak yang cukup kuat. Kondisi ini tak memungkinkan bagi para pelancong untuk menikmati sensasi bermandi – mandi ria di air danau. Tapi tak apalah, karena dapat sampai di lokasi ini saja aku sudah patut bersyukur.


Setelah puas menikmati keindahan danau, maka kamipun bergerak menuju ke kota Padang Panjang. Kota Padang Panjang merupakan kota kelahiran almarhumah nenekku. Ya dapat dibilang, kalau saat ini kami mengadakan pulang kampung bersama. Memang nikmat bermalam di rumah gadang dalam keadaan cuaca yang sangat sejuk. Kota Padang Panjang diapit oleh dua buah gunung yang sangat terkenal, yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Merapi. Kota ini terkenal dengan wisata kulinernya yang lezat dan beraneka macam. Suasana dingin menjadikan kota ini cocok sekali dijadikan tempat untuk menikmati makanan dan minuman yang hangat – hangat.



Kota ini dahulunya juga dikenal dengan kota pelajar yang islami. Ada dua pesantren yang terkenal hingga ke tanah jawa. Pesantren untuk putra bernama Pesantren Tawalib, sementara untuk santri putri adalah Pesantren Diniyah Putri. Menurut cerita ayahku, dahulu santri dikedua pesantren itu banyak yang datang dari Aceh hingga dari Puau Jawa. Kedua pesantren itu masih beroperasi hingga saat ini, namun ketenarannya tidak setenar zaman dahulu lagi.



Adapun lokasi wisata yang terkenal di daerah ini adalah Air Terjun Lembah Anai. Lokasinya dipinggir jalan raya. Jika kita meninggalkan kota Padang Panjang menuju kota Padang, maka tak heran kalau kenderaan yang kita naiki dapat terkena percikan air terjun itu. Tapi besok kami tidak kesana, melainkan melanjutkan perjalanan wisata ke Bukit Tinggi, melihat fly over kelok 9 hingga berwisata di Bukit Harau di daerah Batu Sangkar.

Ke Danau Kembar

1.Ke Danau Kembar


Menyambut awal tahun 2015, aku dan keluarga besar yang kami beri nama Keluarga Besar Serumpun melakukan tour keliling Sumatera Barat. Acara ini kami beri nama : “Bakuliliang di ranah minang”. Maka berkumpullah kami di kota Padang. Ada yang datang dari Batam, pekan baru dan kami sendiri datang dari Medan. Adapun tujuan kami yang pertama adalah Danau Diatas dan Danau Dibawah yang dikenal  dengan nama Danau Kembar. Adapun kenderaan yang kami gunakan untuk keliling Sumbar adalah dengan menggunakan bus pariwisata.

Sekitar pukul 07:00 wib, bus pariwisata berwarna orange itu telah datang menjemput kami yang menginap di rumah tanteku yang tinggal  tak jauh dari bandara Tabing. Bus meninggalkan kota Padang berbelok kekiri melewati pabrik semen padang yang terletak di Indarung. Melewati Indarung bus melewati jalan menanjak dan berbelok – belok. Kami melewati daerah Sitinjau Laut yang berada di atas bukit. Dari tempat  ketinggian itu aku menoleh kota Padang serta pantai padang yang cukup indah.


Tak berapa lama, kami sampai di pintu gerbang Universitas Andalas (UNAND). Bus itupun masuk ke lokasi kampus untuk sekedar melihat – lihat kondisi kampus yang kujadikan pilihan ketiga pada SNMPTN 2015 ini. Hujan gerimis yang membasahi bumi, menjadikan kami tak dapat berlama-lama di kampus ini. Memang tujuan utama kami adalah menuju ke Danau Kembar yang terdapat di Kabupaten Solok. Setelah berfoto – foto sejenak, kamipun meninggalkan lokasi kampus.



Hujan gerimis disertai kabut membuat badan ini terasa dingin. Namun keindahan panorama sepanjang perjalanan membuatku tetap happy. Kami melewati kebun teh yang cukup luas dan sedang ditutupi kabut. Tak berapa lama kemudian, kamipun tiba di kecamatan Piaman Laweh. Ya disinilah letak Danau Kembar itu. Memang ada dua danau di daerah ini, yaitu danau diatas dan danau dibawah. Namun yang kami datangi adalah danau dibawah.



Kami disambut dengan hujan gerimis serta hembusan angin yang sangat kencang. Suasana ini membuat kami merasa kedinginan. Indah memang suasananya. Dilokasi ini juga terdapat penginapan berupa beberapa guest house. Namun kami tidak berencana menginap di lokasi ini, melainkan akan menginap di kota Padang Panjang. Mengingat hujan gerimis yang terus membasahi lokasi wisata ini, maka kamipun meninggalkan lokasi dan bergerak menuju Danau Singkarak.

Selasa, 24 Februari 2015

BMBC (2)

Ke Tangkuban Perahu



Ajang BMBC ( Bandung Marching Band Competition ) ke 4 2013 di UPI telah selesai. Tapi sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk bertamasya ke objek wisata yang olehi UPI kami  penduduk setempat dikenal dengan nama Gunung Tangkuban Perahu. Dari UPI kami menyewa bus menuju ke lokasi itu. Tentu kegiatan ini membuat kami senang dan bahagia.


 Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang terbalik. Diberi nama seperti itu  karena bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik. Konon menurut cerita rakyat parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik. Menurut penduduk setempat , beribu-ribu tahun yang lalu, tanah Parahyangan dipimpin oleh seorang raja dan seorang ratu yang hanya mempunyai seorang putri. Putri itu bernama Dayang Sumbi. Dia sangat cantik dan cerdas, sayangnya dia sangat manja.

 Pada suatu hari saat sedang menenun di beranda istana, Dayang Sumbi merasa lemas dan pusing. Dia menjatuhkan pintalan benangnya ke lantai berkali-kali. Saat pintalannya jatuh untuk kesekian kalinya Dayang Sumbi menjadi marah lalu bersumpah, dia akan menikahi siapapun yang mau mengambilkan pintalannya itu. Tepat setelah kata-kata sumpah itu diucapkan, datang seekor anjing sakti yang bernama Tumang dan menyerahkan pintalan itu ke tangan Dayang Sumbi. Maka mau tak mau, sesuai dengan sumpahnya, Dayang Sumbi harus menikahi Anjing tersebut.

Dayang Sumbi dan Tumang hidup berbahagia hingga mereka dikaruniai seorang anak yang berupa anak manusia tapi memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Anak ini diberi nama Sangkuriang. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring se lalu ditemani bermain oleh seekor anjing yang bernama Tumang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa.


Pada suatu hari Dayang Sumbi menyuruh anaknya pergi bersama anjingnya untuk berburu rusa untuk keperluan suatu pesta. Setelah beberapa lama mencari tanpa hasil, Sangkuriang merasa putus asa, tapi dia tidak ingin mengecewakan ibunya. Maka dengan sangat terpaksa dia mengambil sebatang panah dan mengarahkannya pada Tumang. Setibanya di rumah dia menyerahkan daging Tumang pada ibunya. Dayang Sumbi yang mengira daging itu adalah daging rusa, merasa gembira atas keberhasilan anaknya.
Segera setelah pesta usai  Dayang Sumbi teringat pada Tumang dan bertanya  ke pada anaknya tentang keberadaan Tumang . Pada mulanya Sangkuriang merasa takut, tapi akhirnya dia mengatakan apa yang telah terjadi pada ibunya. Dayang Sumbi menjadi sangat murka, dalam kemarahannya dia memukul  kening Sangkuriang hingga pingsan . Atas perbuatannya itu Dayang Sumbi diusir keluar dari kerajaan oleh ayahnya. Untungnya Sangkuriang sadar kembali tapi pukulan ibunya meninggalkan bekas luka yang sangat lebar di keningnya.Setelah dewasa, Sangkuriang pun pergi mengembara untuk mengetahui keadaan dunia luar.


Beberapa tahun kemudian, Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik. Segera saja dia jatuh cinta pada wanita tersebut. Wanita itu ternyata  adalah ibunya sendiri, tapi mereka tidak saling mengenali satu sama lainnya. Sangkuriang melamarnya, Dayang Sumbi pun menerima dengan senang hati. Sehari sebelum hari pernikahan, saat sedang mengelus rambut tunangannya, Dayang Sumbi melihat bekas luka yang lebar di dahi Sangkuriang, akhirnya dia menyadari bahwa dia hampir menikahi putranya sendiri. Mengetahui hal tersebut Dayang Sumbi berusaha menggagalkan pernikahannya. Setelah berpikir keras dia akhirnya memutuskan untuk mengajukan syarat perkawinan yang tak mungkin dikabulkan oleh Sangkuriang. Syaratnya adalah: Sangkuriang harus membuat sebuah bendungan yang bisa menutupi seluruh bukit lalu membuat sebuah perahu untuk menyusuri bendungan tersebut. Semua itu harus sudah selesai sebelum fajar menyingsing.

Sangkuriang mulai bekerja. Cintanya yang begitu besar pada Sangkuriang memberinya suatu kekuatan aneh. Tak lupa dia juga menggunakan kekuatan yang dia dapat dari ayahnya untuk memanggil jin-jin untuk  membantunya. Dengan lumpur dan tanah mereka membendung air dari sungai dan mata air. Beberapa saat sebelum fajar, Sangkuriang menebang sebatang pohon besar untuk membuat sebuah perahu. Ketika Dayang Sumbi melihat bahwa Sangkuriang hampir menyelesaikan pekerjaannya, dia berdoa pada dewa-dewa untuk merintangi pekerjaan anaknya dan mempercepat datangnya pagi.

Ayam jantanpun berkokok, matahari terbit lebih cepat dari biasanya dan Sangkuriang menyadari bahwa dia telah ditipu. Dengan sangat marah dia mengutuk Dayang Sumbi dan menendang perahu buatannya yang hampir jadi ke tengah hutan. Perahu itu berada disana dalam keadaan terbalik , dan akhirnya membentuk Gunung Tangkuban Perahu (perahu yang terbalik). Tidak jauh dari tempat itu terdapat tunggul pohon sisa dari tebangan Sangkuriang, sekarang kita mengenalnya sebagai Bukit Tunggul. Bendungan yang dibuat Sangkuriang menyebabkan seluruh bukit dipenuhi air dan membentuk sebuah danau dimana Sangkuriang dan Dayang Sumbi menenggelamkan diri dan tidak terdengar lagi kabarnya hingga kini.


 Percaya  atau tidak, ya begitulah lebih kurang ceritanya yang ku dengar dari penduduk setempat. Kami tidak hanya terpesona dengan kisahnya saja, namun yang lebih menarik bagi kami adalah pemandangan alam yang kami saksikan begitu indah. Cuaca dingin yang sejuk membuat kami berlama – lama di daerah ini. Bau belerang yang bersumber dari kawahnya memaksa kami untuk menggunakan masker.


Menjelang sore, rombongan kami meninggalkan lokasi ini menuju Pasar Baru di kota Bandung. Ya sekedar untuk membeli oleh – oleh yang akan kami bawa pulang . Biasalah, soalnya besok kami akan berkemas – kemas untuk kembali ke kota Medan. 

BMBC (1)



Malam itu aku dan beberapa teman lainnya sedang berkumpul di MAN 2 Model Medan. Rencananya  kami akan berangkat ke Bandung untuk mengikuti BMBC yang keempat. Tau apa itu BMBC?, itu lho Bandung Marching Band Competition. Sebuah ajang perlombaan antar grup Marching Band. Bisalah kubilang ini merupakan ajang Internasional, karena juga akan diikuti oleh peserta dari Thailand.

Pada pukul 02:00 pagi bus yang yang membawa rombongan kami bergerak dari sekolahku tercinta menuju KNIA ( Kuala Namu International Airport ). Kami merupakan kelompok ketiga yang diberangkatkan, karena teman-temanku kelompok satu dan dua telah berangkat kemarin.Yaa banyak juga lho yang berangkat, totalnya sekitar 90 orang. Kami membawa nama BIMANDA ( Bina Musika Man 2 Model Medan ) yang merupakan salah satu organisasi ekstrakurikuler di sekolahku.


Pukul 05:00 pagi pesawat Air Asia itupun terbang melayang ke udara melintasi awan menuju ke Bandung. Dapat dibilang hampir semua kami yang berangkat baru pertama kali merasakan naik pesawat. Jadi wajar saja kalau kami senyum – senyum bahagia sepanjang perjalanan he..he..he.. Setelah sekitar dua setengah jam  mengudara, pesawat Air Asia yang kami tumpangi itupun mendarat di Bandara Hussen  Bandung.

Sesampainya di bandara itu, sebuah bus milik kepolisian telah menjemput kami dan membawa kami ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Dulu namanya  IKIP Bandung. Lokasinya begitu Asri dan udaranyapun terasa menyegarkan. Disinlah kami akan mengikuti ajang lomba  yang akan dimulai sepuluh hari lagi. Ya memang kami datang lebih awal, dan akan melakukan pemantapan latihan menjelang  acara pembukaan.
.

Tanpa harus membuang waktu, setelah meletakkan koper dan tas di asrama pemondokan, kamipun langsung menuju ke sebuah lapangan untuk melakukan latihan. Latihan, latihan dan terus berlatih merupakan rutinitas kami di kampus itu. Pagi, siang, sore hingga  malam hari kami gunakan waktu sebaik – baiknya untuk  pemantapan. Jauh – jauh kami datang memang bukan sekedar ikut – ikutan di ajang lomba ini. Target kami nggak muluk – muluk, Cuma berusaha menjadi yang terbaik saja J


Setelah sekian hari berlatih, akhirnya pertandinganpun di mulai. Ada beberapa mata lomba yang kami ikuti, seperti Kirab, drum battle, colour guard hingga mata lomba display. Persiapan yang matang dan cukup melelahkan ternyata membuat setiap penampilan yang kami suguhkan cukup mendapat apresiasi dari penonton. Satu demi satu ajang mata  lomba kami ikuti dengan penuh semangat.



Tibalah acara penutupan yang diawali dengan pengumuman juara – juara setiap mata lomba.  Ada 11 piala yang kami raih dari keseluruhan mata lomba yang dipertandingkan. Horeeee teriakan gemuruhpun membahana di aula gymnasium itu disaat BIMANDA dinyatakan sebagai juara umum 2. Lompat – lompat kegirangan serta sorak sorai menyertai kami  yang berhasil meraih piala bergilir yang ukurannya cukup tinggi itu.



Kami pandangi deretan trophi atau piala – piala yang berhasil kami kumpulkan itu dengan penuh senyum kebahagiaan. Terobati sudah susah senang serta jerih payah sepanjang latihan selama ini. Baik itu latihan yang dimulai dari Medan, hingga latihan – latihan pemantapan yang kami tekuni selama berada di kampus UPI. Kini semua tinggal kenangan yang nggak mungkin aku lupakan semasa hidupku kelak. Kenangan manis masa – masa indah di BIMANDA bersama rekan – rekan semasa sekolah di MAN 2 Model Medan. Indahnya kebersamaan jika dijalin dengan penuh ketulusan. J







Senin, 23 Februari 2015

P. Samosir (3)




Pagi ini cuaca di desa Tuktuk  cukup cerah.  Aku berencana melanjutkan petualanganku di Pulau Samosir ke pemandian air panas yang ada di daerah Pangururan. Sebelum berangkat, aku singgah di sebuah warung sekedar untuk sarapan pagi. Lalu aku berdiri dipinggir jalan menanti angkutan umum yang datang dari Tomok menuju ke Pangururan.

Syukurlah, tak lama menunggu aku mendapatkan angkutan umum yang biasa membawa penduduk lokal. Karena disamping pak supir ada bangku kosong, maka akupun duduk disitu. Duduk disamping pak supir memang mengasyikkan. Aku  dapat menikmati keindahan alam Pulau Samosir dengan lebih jelas.


 “ Mau kemana nak ?”, tanya pak supir. “Ke Pemandian Air Panas pak”, jawabku singkat. Lalu pak supir menunjukkan jarinya kearah sebuah gunung yang jaraknya masih jauh dari kenderaan yang ku tompangi. “ Itu namanya Gunung Pusuk Buhit, di lereng gunung itulah lokasi air panasnya”, jelas pak supir. Aku mengangguk sajalah, soalnya aku belum pernah kesana. Pak supir menjelaskan bahwa tidak ada kenderaan umum yang sampai ke lokasi itu. Mendengar penjelasan itu pening juga kepalaku. Tapi aku harus melanjutkan perjalanan apapun ceritanya.


Sepanjang perjalanan, pak supir bercerita tentang gunung Pusuk Buhit yang melegenda. Terkadang aku dibuatnya ketawa, soalnya banyak ceritanya yang lucu-lucu. Nggak terasa sudah satu jam lebih aku diperjalanan ini. Tapi bagi back packer macamku, ini hal biasa saja, apalagi  untuk pertama kali aku ke daerah ini. Pak supir menjelaskan, setelah sampai di Pangururan aku akan diturunkannya di simpang tiga. “Dari simpang tiga itu aku naik apa pak?”, tanyaku. “Jalan kakilah sekitar tiga kilometer”, jawabnya sambil mentertawaiku.


Cerita punya cerita, syukurlah pak supir mau mengantarkan kami hingga ke lokasi yang kami tuju dengan perjanjian kami bersedia menambah ongkosnya Rp 20,000,-. Setelah terjadi kesepakatan penambahan ongkos, kamipun tertawa. Betul saja, sampai di Pangururan kami menjumpai simpang tiga, dan pak supir membelokkan kendaraannya mengarah ke kanan.Tak berapa lama, sampailah kami di lokasi pemandian air panas itu.


Ada beberapa kolam pemandian yang disediakan oleh penduduk setempat. Harganyapun bervariasi, tapi rata – rata sekitar rp 10,000 saja/orang. Tapi kami memesan sebuah kolam khusus bertarif Rp 50,000,-. Tapi di kolam ini Cuma kita saja yang mandi atau nggak bercampur dengan pengunjung lainnya. Waktunya sekitar dua jam, ya cukuplah untuk  merasakan sensasi berendam di air hangat.


Setelah puas berendam di air hangat, kamipun beristirahat dikantin sekedar menikmati minuman yang hangat – hangat. Sebelum meninggalkan lokasi kusempatkan untuk foto – foto di lereng Gunung Pusuk Buhit yang kata pak supir merupakan legenda bagi orang batak.

Lokasi bawah lereng memang tandus, dan tak dapat ditumbuhi pepohonan. Ya tentu saja disebabkan oleh keberadaan sumber air panas disekitarnya. Namun dibagian atas hingga ke puncak gunung, kelihatan  hijau dengan tumbuhnya banyak pepohonan. Selesai selfi dan foto – foto kami pun siap-siap hendak meninggalkan lokasi.


Betul juga kata pak supir tadi, memang tak ada kenderaan umum yang sampai kesini. Namun apa mau dikata, ya  terpaksalah kami jalan kaki sampai ke simpang tiga tadi. “ Lumayan juga, berjalan sepanjang tiga kilometer”, pikirku.  Tapi nasib baik, setelah berjalan sekitar satu kilometer, ada becak penduduk yang lewat. Kamipun mencoba menghentikannya dan minta tolong untuk dihantar ke simpang tiga itu. Memang nasib baik, tukang becak itu ternyata hendak menuju kesana juga dan meminta kami untuk membayarnya rp 15.000,-.  Ya nggak masalahlah, dari pada jalan kaki  ha..ha..ha...



Dari Pangururan kami kembali naik angkutan umum menuju ke Tomok dan menyeberang kembali ke Parapat. Malam ini kami akan menginap kembali satu malam di Parapat dan besok pagi akan kembali ke Medan. Hadeeeeh capek juga perjalanan sepanjang hari ini. Tapi yang pasti, walau capek tetap mengasyikkan. Udah ya cerita jalan – jalan di Pulau Samosirnya. Ntar kusambung lagi cerita di lokasi yang berbeda he..he..he...