Senin, 23 Februari 2015

P. Samosir (3)




Pagi ini cuaca di desa Tuktuk  cukup cerah.  Aku berencana melanjutkan petualanganku di Pulau Samosir ke pemandian air panas yang ada di daerah Pangururan. Sebelum berangkat, aku singgah di sebuah warung sekedar untuk sarapan pagi. Lalu aku berdiri dipinggir jalan menanti angkutan umum yang datang dari Tomok menuju ke Pangururan.

Syukurlah, tak lama menunggu aku mendapatkan angkutan umum yang biasa membawa penduduk lokal. Karena disamping pak supir ada bangku kosong, maka akupun duduk disitu. Duduk disamping pak supir memang mengasyikkan. Aku  dapat menikmati keindahan alam Pulau Samosir dengan lebih jelas.


 “ Mau kemana nak ?”, tanya pak supir. “Ke Pemandian Air Panas pak”, jawabku singkat. Lalu pak supir menunjukkan jarinya kearah sebuah gunung yang jaraknya masih jauh dari kenderaan yang ku tompangi. “ Itu namanya Gunung Pusuk Buhit, di lereng gunung itulah lokasi air panasnya”, jelas pak supir. Aku mengangguk sajalah, soalnya aku belum pernah kesana. Pak supir menjelaskan bahwa tidak ada kenderaan umum yang sampai ke lokasi itu. Mendengar penjelasan itu pening juga kepalaku. Tapi aku harus melanjutkan perjalanan apapun ceritanya.


Sepanjang perjalanan, pak supir bercerita tentang gunung Pusuk Buhit yang melegenda. Terkadang aku dibuatnya ketawa, soalnya banyak ceritanya yang lucu-lucu. Nggak terasa sudah satu jam lebih aku diperjalanan ini. Tapi bagi back packer macamku, ini hal biasa saja, apalagi  untuk pertama kali aku ke daerah ini. Pak supir menjelaskan, setelah sampai di Pangururan aku akan diturunkannya di simpang tiga. “Dari simpang tiga itu aku naik apa pak?”, tanyaku. “Jalan kakilah sekitar tiga kilometer”, jawabnya sambil mentertawaiku.


Cerita punya cerita, syukurlah pak supir mau mengantarkan kami hingga ke lokasi yang kami tuju dengan perjanjian kami bersedia menambah ongkosnya Rp 20,000,-. Setelah terjadi kesepakatan penambahan ongkos, kamipun tertawa. Betul saja, sampai di Pangururan kami menjumpai simpang tiga, dan pak supir membelokkan kendaraannya mengarah ke kanan.Tak berapa lama, sampailah kami di lokasi pemandian air panas itu.


Ada beberapa kolam pemandian yang disediakan oleh penduduk setempat. Harganyapun bervariasi, tapi rata – rata sekitar rp 10,000 saja/orang. Tapi kami memesan sebuah kolam khusus bertarif Rp 50,000,-. Tapi di kolam ini Cuma kita saja yang mandi atau nggak bercampur dengan pengunjung lainnya. Waktunya sekitar dua jam, ya cukuplah untuk  merasakan sensasi berendam di air hangat.


Setelah puas berendam di air hangat, kamipun beristirahat dikantin sekedar menikmati minuman yang hangat – hangat. Sebelum meninggalkan lokasi kusempatkan untuk foto – foto di lereng Gunung Pusuk Buhit yang kata pak supir merupakan legenda bagi orang batak.

Lokasi bawah lereng memang tandus, dan tak dapat ditumbuhi pepohonan. Ya tentu saja disebabkan oleh keberadaan sumber air panas disekitarnya. Namun dibagian atas hingga ke puncak gunung, kelihatan  hijau dengan tumbuhnya banyak pepohonan. Selesai selfi dan foto – foto kami pun siap-siap hendak meninggalkan lokasi.


Betul juga kata pak supir tadi, memang tak ada kenderaan umum yang sampai kesini. Namun apa mau dikata, ya  terpaksalah kami jalan kaki sampai ke simpang tiga tadi. “ Lumayan juga, berjalan sepanjang tiga kilometer”, pikirku.  Tapi nasib baik, setelah berjalan sekitar satu kilometer, ada becak penduduk yang lewat. Kamipun mencoba menghentikannya dan minta tolong untuk dihantar ke simpang tiga itu. Memang nasib baik, tukang becak itu ternyata hendak menuju kesana juga dan meminta kami untuk membayarnya rp 15.000,-.  Ya nggak masalahlah, dari pada jalan kaki  ha..ha..ha...



Dari Pangururan kami kembali naik angkutan umum menuju ke Tomok dan menyeberang kembali ke Parapat. Malam ini kami akan menginap kembali satu malam di Parapat dan besok pagi akan kembali ke Medan. Hadeeeeh capek juga perjalanan sepanjang hari ini. Tapi yang pasti, walau capek tetap mengasyikkan. Udah ya cerita jalan – jalan di Pulau Samosirnya. Ntar kusambung lagi cerita di lokasi yang berbeda he..he..he... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar