Pagi ini cuaca di desa Tuktuk
cukup cerah. Aku berencana
melanjutkan petualanganku di Pulau Samosir ke pemandian air panas yang ada di
daerah Pangururan. Sebelum berangkat, aku singgah di sebuah warung sekedar
untuk sarapan pagi. Lalu aku berdiri dipinggir jalan menanti angkutan umum yang
datang dari Tomok menuju ke Pangururan.
Syukurlah, tak lama menunggu aku mendapatkan angkutan umum
yang biasa membawa penduduk lokal. Karena disamping pak supir ada bangku
kosong, maka akupun duduk disitu. Duduk disamping pak supir memang
mengasyikkan. Aku dapat menikmati
keindahan alam Pulau Samosir dengan lebih jelas.
“ Mau kemana nak ?”,
tanya pak supir. “Ke Pemandian Air Panas pak”, jawabku singkat. Lalu pak supir
menunjukkan jarinya kearah sebuah gunung yang jaraknya masih jauh dari
kenderaan yang ku tompangi. “ Itu namanya Gunung Pusuk Buhit, di lereng gunung
itulah lokasi air panasnya”, jelas pak supir. Aku mengangguk sajalah, soalnya
aku belum pernah kesana. Pak supir menjelaskan bahwa tidak ada kenderaan umum
yang sampai ke lokasi itu. Mendengar penjelasan itu pening juga kepalaku. Tapi
aku harus melanjutkan perjalanan apapun ceritanya.
Sepanjang perjalanan, pak supir bercerita tentang gunung
Pusuk Buhit yang melegenda. Terkadang aku dibuatnya ketawa, soalnya banyak
ceritanya yang lucu-lucu. Nggak terasa sudah satu jam lebih aku diperjalanan ini.
Tapi bagi back packer macamku, ini hal biasa saja, apalagi untuk pertama kali aku ke daerah ini. Pak
supir menjelaskan, setelah sampai di Pangururan aku akan diturunkannya di
simpang tiga. “Dari simpang tiga itu aku naik apa pak?”, tanyaku. “Jalan kakilah
sekitar tiga kilometer”, jawabnya sambil mentertawaiku.
Cerita punya cerita, syukurlah pak supir mau mengantarkan
kami hingga ke lokasi yang kami tuju dengan perjanjian kami bersedia menambah
ongkosnya Rp 20,000,-. Setelah terjadi kesepakatan penambahan ongkos, kamipun
tertawa. Betul saja, sampai di Pangururan kami menjumpai simpang tiga, dan pak
supir membelokkan kendaraannya mengarah ke kanan.Tak berapa lama, sampailah
kami di lokasi pemandian air panas itu.
Ada beberapa kolam pemandian yang disediakan oleh penduduk
setempat. Harganyapun bervariasi, tapi rata – rata sekitar rp 10,000
saja/orang. Tapi kami memesan sebuah kolam khusus bertarif Rp 50,000,-. Tapi di
kolam ini Cuma kita saja yang mandi atau nggak bercampur dengan pengunjung
lainnya. Waktunya sekitar dua jam, ya cukuplah untuk merasakan sensasi berendam di air hangat.
Setelah puas berendam di air hangat, kamipun beristirahat
dikantin sekedar menikmati minuman yang hangat – hangat. Sebelum meninggalkan
lokasi kusempatkan untuk foto – foto di lereng Gunung Pusuk Buhit yang kata pak
supir merupakan legenda bagi orang batak.
Lokasi bawah lereng memang tandus, dan tak dapat ditumbuhi
pepohonan. Ya tentu saja disebabkan oleh keberadaan sumber air panas
disekitarnya. Namun dibagian atas hingga ke puncak gunung, kelihatan hijau dengan tumbuhnya banyak pepohonan.
Selesai selfi dan foto – foto kami pun siap-siap hendak meninggalkan lokasi.
Betul juga kata pak supir tadi, memang tak ada kenderaan umum
yang sampai kesini. Namun apa mau dikata, ya terpaksalah kami jalan kaki sampai ke simpang
tiga tadi. “ Lumayan juga, berjalan sepanjang tiga kilometer”, pikirku. Tapi nasib baik, setelah berjalan sekitar
satu kilometer, ada becak penduduk yang lewat. Kamipun mencoba menghentikannya
dan minta tolong untuk dihantar ke simpang tiga itu. Memang nasib baik, tukang
becak itu ternyata hendak menuju kesana juga dan meminta kami untuk membayarnya
rp 15.000,-. Ya nggak masalahlah, dari
pada jalan kaki ha..ha..ha...
Dari Pangururan kami kembali naik angkutan umum menuju ke
Tomok dan menyeberang kembali ke Parapat. Malam ini kami akan menginap kembali
satu malam di Parapat dan besok pagi akan kembali ke Medan. Hadeeeeh capek juga
perjalanan sepanjang hari ini. Tapi yang pasti, walau capek tetap mengasyikkan.
Udah ya cerita jalan – jalan di Pulau Samosirnya. Ntar kusambung lagi cerita di
lokasi yang berbeda he..he..he...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar