Ke Tangkuban Perahu
Ajang BMBC (
Bandung Marching Band Competition ) ke 4 2013 di UPI telah selesai. Tapi
sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk bertamasya ke objek wisata yang
olehi UPI kami penduduk setempat dikenal
dengan nama Gunung Tangkuban Perahu. Dari UPI kami menyewa bus menuju ke lokasi
itu. Tentu kegiatan ini membuat kami senang dan bahagia.
Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang
terbalik. Diberi nama seperti itu karena
bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik. Konon menurut cerita rakyat
parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik. Menurut penduduk
setempat , beribu-ribu tahun yang lalu, tanah Parahyangan dipimpin oleh seorang
raja dan seorang ratu yang hanya mempunyai seorang putri. Putri itu bernama
Dayang Sumbi. Dia sangat cantik dan cerdas, sayangnya dia sangat manja.
Pada suatu hari saat sedang menenun di beranda
istana, Dayang Sumbi merasa lemas dan pusing. Dia menjatuhkan pintalan
benangnya ke lantai berkali-kali. Saat pintalannya jatuh untuk kesekian kalinya
Dayang Sumbi menjadi marah lalu bersumpah, dia akan menikahi siapapun yang mau
mengambilkan pintalannya itu. Tepat setelah kata-kata sumpah itu diucapkan,
datang seekor anjing sakti yang bernama Tumang dan menyerahkan pintalan itu ke
tangan Dayang Sumbi. Maka mau tak mau, sesuai dengan sumpahnya, Dayang Sumbi
harus menikahi Anjing tersebut.
Dayang Sumbi
dan Tumang hidup berbahagia hingga mereka dikaruniai seorang anak yang berupa
anak manusia tapi memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Anak ini diberi nama
Sangkuriang. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring se lalu ditemani bermain
oleh seekor anjing yang bernama Tumang yang dia ketahui hanya sebagai anjing
yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda
yang tampan dan gagah perkasa.
Pada suatu
hari Dayang Sumbi menyuruh anaknya pergi bersama anjingnya untuk berburu rusa
untuk keperluan suatu pesta. Setelah beberapa lama mencari tanpa hasil, Sangkuriang
merasa putus asa, tapi dia tidak ingin mengecewakan ibunya. Maka dengan sangat
terpaksa dia mengambil sebatang panah dan mengarahkannya pada Tumang. Setibanya
di rumah dia menyerahkan daging Tumang pada ibunya. Dayang Sumbi yang mengira
daging itu adalah daging rusa, merasa gembira atas keberhasilan anaknya.
Segera
setelah pesta usai Dayang Sumbi teringat
pada Tumang dan bertanya ke pada anaknya
tentang keberadaan Tumang . Pada mulanya Sangkuriang merasa takut, tapi
akhirnya dia mengatakan apa yang telah terjadi pada ibunya. Dayang Sumbi
menjadi sangat murka, dalam kemarahannya dia memukul kening Sangkuriang hingga pingsan . Atas
perbuatannya itu Dayang Sumbi diusir keluar dari kerajaan oleh ayahnya.
Untungnya Sangkuriang sadar kembali tapi pukulan ibunya meninggalkan bekas luka
yang sangat lebar di keningnya.Setelah dewasa, Sangkuriang pun pergi mengembara
untuk mengetahui keadaan dunia luar.
Beberapa
tahun kemudian, Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik.
Segera saja dia jatuh cinta pada wanita tersebut. Wanita itu ternyata adalah ibunya sendiri, tapi mereka tidak
saling mengenali satu sama lainnya. Sangkuriang melamarnya, Dayang Sumbi pun
menerima dengan senang hati. Sehari sebelum hari pernikahan, saat sedang
mengelus rambut tunangannya, Dayang Sumbi melihat bekas luka yang lebar di dahi
Sangkuriang, akhirnya dia menyadari bahwa dia hampir menikahi putranya sendiri.
Mengetahui hal tersebut Dayang Sumbi berusaha menggagalkan pernikahannya.
Setelah berpikir keras dia akhirnya memutuskan untuk mengajukan syarat
perkawinan yang tak mungkin dikabulkan oleh Sangkuriang. Syaratnya adalah:
Sangkuriang harus membuat sebuah bendungan yang bisa menutupi seluruh bukit
lalu membuat sebuah perahu untuk menyusuri bendungan tersebut. Semua itu harus
sudah selesai sebelum fajar menyingsing.
Sangkuriang
mulai bekerja. Cintanya yang begitu besar pada Sangkuriang memberinya suatu
kekuatan aneh. Tak lupa dia juga menggunakan kekuatan yang dia dapat dari ayahnya
untuk memanggil jin-jin untuk membantunya.
Dengan lumpur dan tanah mereka membendung air dari sungai dan mata air.
Beberapa saat sebelum fajar, Sangkuriang menebang sebatang pohon besar untuk
membuat sebuah perahu. Ketika Dayang Sumbi melihat bahwa Sangkuriang hampir
menyelesaikan pekerjaannya, dia berdoa pada dewa-dewa untuk merintangi
pekerjaan anaknya dan mempercepat datangnya pagi.
Ayam jantanpun
berkokok, matahari terbit lebih cepat dari biasanya dan Sangkuriang menyadari
bahwa dia telah ditipu. Dengan sangat marah dia mengutuk Dayang Sumbi dan
menendang perahu buatannya yang hampir jadi ke tengah hutan. Perahu itu berada
disana dalam keadaan terbalik , dan akhirnya membentuk Gunung Tangkuban Perahu
(perahu yang terbalik). Tidak jauh dari tempat itu terdapat tunggul pohon sisa
dari tebangan Sangkuriang, sekarang kita mengenalnya sebagai Bukit Tunggul.
Bendungan yang dibuat Sangkuriang menyebabkan seluruh bukit dipenuhi air dan
membentuk sebuah danau dimana Sangkuriang dan Dayang Sumbi menenggelamkan diri
dan tidak terdengar lagi kabarnya hingga kini.
Percaya
atau tidak, ya begitulah lebih kurang ceritanya yang ku dengar dari
penduduk setempat. Kami tidak hanya terpesona dengan kisahnya saja, namun yang
lebih menarik bagi kami adalah pemandangan alam yang kami saksikan begitu
indah. Cuaca dingin yang sejuk membuat kami berlama – lama di daerah ini. Bau
belerang yang bersumber dari kawahnya memaksa kami untuk menggunakan masker.
Menjelang
sore, rombongan kami meninggalkan lokasi ini menuju Pasar Baru di kota Bandung.
Ya sekedar untuk membeli oleh – oleh yang akan kami bawa pulang . Biasalah,
soalnya besok kami akan berkemas – kemas untuk kembali ke kota Medan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar