Rabu, 25 Februari 2015

Jenjang 1000 koto Gadang

6.Ke Jenjang 1000


Pagi  itu cuaca di kota Padang Panjang Cukup cerah. Kami yang menginap di  rumah gadang sibuk mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan tour keliling Sumatera Barat. Ada yang mandi, sarapan lontong dan sebagainya. Sebelum jam 07:00 pagi sumua sudah siap dan  menanti kedatangan bus pariwisata yang akan menjemput.



Bukit Tinggi kotanya berbukit – bukit. Dari Lokasi yang disebut Panorama, kami dapat menyaksikan indahnya Ngarai Sianok dipagi hari. Kami akan melanjutkan kegiatan dengan berjalan santai menuruni Ngarai sianok itu hingga ke Koto gadang yang ada di bagian bawah Ngarai itu.



Kegiatan jalan santai ini dimulai dari Gua Jepang yang letaknya tak terlalu jauh dari pelataran Jam Gadang. Gua Jepang adalah gua atau lobang peninggalan bangsa Jepang disaat mereka menjajah bangsa Indonesia. Konon ceritanya, digua itulah bangsa Jepang bersembunyi, menyimpan makanan dan senjata perang serta tempat penyiksaan orang pribumi yang melawan kebijakan mereka.



Kamipun menyusuri lokasi jalan santai yang diselimuti embun. Jalan setapak ini dahulunya digunakan penduduk desa Koto Gadang yang ada didasar ngarai sianok untuk membawa barang dagangannya menuju pajak di sekitar Jam Gadang. Begitu pula jalan setapak ini dahulunya digunakan oleh para pejuang Indonesia seperti pejuang H. Agoes Salim untuk melakukan perlawanan terhadap bangsa penjajah. Untuk mengenang itu semua, maka jalan setapak ini di jadikan pemerintah daerah sebagai tempat wisata yang diberi nama janjang seribu. Janjang artinya anak tangga. Kondisinya mirip tembok besar yang ada di China. Kalau dahulu merupakan jalan tanah, tapi kini sudah dilapisi semen.


Adapun jarak tempuh yang harus kami lalui berkisar tiga kilometer. Sebenarnya route perjalanannya di mulai dari Koto Gadang menuju ke gua Jepang. Namun karena tadi kami ke jam gadang terlebih dahulu, maka kami melawan arus. Tapi tak apalah, karena tak ada peraturan yang melarangnya. Lokasi ini sering dijadikan tempat jalan santai sejak diresmikan oleh Menteri Depkominfo Tifatul Sembiring diera pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY)



Kami melewati ngarai atau dasar lembah, dan sesekali melewati beberapa jembatan yang ada disini. Terbayang dalam pikiranku, bahwa beginilah susahnya perjalanan orang Koto Gadang zaman dahulu pergi menjual hasil bumi ke pajak di Bukit Tinggi. Memang sih ada jalan lainnya menuju kesana, tapi jarah tempuhnya sangat jauh. Mendekati Koto Gadang kami terpaksa harus menaiki ribuan anak tangga. Tapi tetap mengasyikkan lho. Nggak percaya?. yaa udah datang dan buktikan aja sendiri he..he..he...


Bus Pariwisata yang menjemput kami tak dapat masuk hingga ke depan jenjang 1000. Bus itu menunggu kami di depan rumah adat anak negeri minang yang terdapat di Koto Gadang. Tentu saja dikarenakan jalan menuju lokasi itu terlalu kecil untuk sebuah bus. Tapi buat mobil pribadi tentu dapat masuk hingga ke pintu Jenjang Seribu. Udah dulu yaa, ntar kami mau bersiap - siap hendak ke Puncak Lawang diatas Danau Maninjau.


bersambung :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar