3. Ke Jam Gadang Bukit Tinggi
(Gambar : Keluarga Besar Serumpun )
Sungguh nyenyak tidurku di rumah gadang ini tadi malam.
Maklumlah kemaren seharian kami jalan – jalan ke danau kembar dan danau
Singkarak. Pagi ini kami akan
melanjutkan perjalanan berkeliling di Sumatera Barat. Tujuan hari ini adalah
melihat jam Gadang, lalu ke fly over kelok 9 dan menikmati pemandangan Bukit Harau
di Batu Sangkar.
Sambil menanti kedatangan bus itu, kami menyempatkan diri
untuk berfoto ria di depan rumah yang terbilang antik itu. Tak berapa lama, bus
yang dinantipun telah datang. Tujuan pertama adalah mengunjungi Jam Gadang yang
terdapat di Bukit Tinggi. Lebih kurang satu jam, kamipun tiba di pelataran Jam
Gadang yang dibangun sejak masa penjajahan Belanda.
Pagi itu suasana jam gadang cukup ramai. Beberapa penduduk kota Bukit Tinggi terlihat sedang melakukan senam kebugaran yang diiringi musik India. Mau tau
lagu apa yang diputar ?, ya lagu “Chaiya - Chaiya” yang dibawakan Sahrukh Khan dalam film Dilse. Suasana mendadak heboh,
disaat rombongan kami turut serta mengikuti gerakan senam kebugaran itu.
(Gambar :Bersama Tante dan sepupuku )
Ini juga merupakan kali pertama aku menjejakkan kaki ke
lokasi ini. Tepat di depan pelataran Jam Gadang itu aku melihat sebuah gedung yang dari plank namanya disebutkan bahwa
itu adalah Istana Bung Hatta. Ia seorang
mantan wakil presiden RI pada masa presiden Soekarno. Hebat juga ya, salah seorang warga bukit tinggi ini menjadi wakil
presiden pertama di Indonesia.
Kami sempatkan untuk berfoto ria bersama para badut yang lucu
– lucu. Badut itu yang mengajak kami untuk foto bersama. Tapi nggak enaknya
para badut itu pula yang minta duit karena berfoto sama mereka. Padahalkan
mereka yang ngajak, tapi tak apalah he..he..he... Lalu kami membeli cendera mata
khas Sumatera Barat di pajak dekat Jam Gadang itu. Ada yang membeli pernak –
pernik, makanan ringan seperti kerupuk sanjai dan lain sebagainya. Selanjutnya,
kami berencana menuju dan menikmati apa saja yang ada di daerah Batu Sangkar.
(Gambar : Ayahku Lagi Pasang Aksi di kelok 9 he..he..he.. )
4. Ke Fly
Over Kelok Sembilan
Bus mengarah
ke Bukit Tinggi lalu berbelok ke kanan. Diperjalanan aku melihat kampus Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri (STPDN). Sekolah ini
dihuni para mahasiswa yang mendapatkan ikatan dinas oleh kementrian dalam
negeri Republik Indonesia. Enak ya, udah nggak bayar uang kuliah, diberi
perlengkapan kuliah, berasrama, diberi uang saku, dan enaknya setelah diwisuda
langsung diangkat menjadi PNS di
lingkungan Kementrian Dalam Negeri. Tapi aku nggak tertarik belajar disini, karena
aku punya cita – cita yang lain.
Setelah beberapa jam diperjalanan, kami tiba di kelok
sembilan batu sangkar. Ini merupakan jalan yang menghubungkan kota Bukit Tinggi
di Sumatera Barat menuju kota Pekan Baru di provinsi Riau. Dahulunya Kelok 9
merupakan jalan berkelok yang cukup membahayakan kenderaan yang melintasinya.
Dinamakan kelok 9 ya jumlah kelokannya ada sembilan kali, ya itu aja. Tapi
untuk memudahkan para pengguna jalan, maka pada era pemerintahan SBY, di
buatlah fly over atau jembatan layang yang lebar jalannya cukup luas.
Kegiatan disini ya Cuma menikmati pemandangan alam saja. Biasanya
jembatan layang dibangun untuk mengatasi kemacetan di inti kota. Kalau di
Jakarta yang terkenalkan jembatan layang Semanggi, tapi disini jembatan
layangnya berada di pinggir hutan, lucu ya he..he..he.. Tapi sekedar untuk
merasakan sensasi kelok 9 yang lama, kita dapat melewatinya. Karena kelok 9
yang lama tidak ditutup, namun udah jarang dilalui kendaraan, kecuali bagi yang
ingin mencobanya saja. Termasuklah bus rombongan kami yang mencoba melewatinya.
5.Ke Bukit Harau
5.Ke Bukit Harau
Setelah puas di kelok sembilan, kami berbalik arah kembali.
Tujuan kali ini ke daerah Harau. Kami menyaksikan kumpulan bukit – bukit yang
terjal. Namun bedanya bukit disini dengan bukit di tempat lain, kalau disini
bukitnya tandus. Jadi yang kelihatan bukit berupa batu – batu cadas yang
ukurannya sangat besar sekali. Lokasinyapun tak terlalu jauh dari kelok 9 tadi.
Mau ngapain aja disini?. Ya melihat – lihat bukit tandus
itulah ha..ha..ha, tapi disini juga terdapat beberapa air terjun yang mengalir
menuruni dinding bukit cadas itu. Aku yakin airnya jernih, namun karena
pengunjung yang mandi terlalu banyak, maka menjadikan air di kolam pemandiannya
menjadi keruh.
Bagi yang hobby berkemah, disini juga disediakan camping area
yang cukup bersih dan aman. Apalagi yang hobby panjat tebing, ya disini tempatnya,
tinggal pilih aja tebing yang mana yang mau dipanjat. Aku hanya mencoba fasilitas
outbond sajalah. Guna menghindari rasa takut, disaat meluncur aku berteriak “aaauuuuoookkkk”
menirukan suara tarzan yang di film – film itu wkwkwk.
Menjelang sore hari, kami meninggalkan lokasi kembali ke
basecamp rumah gadang di Padang Panjang. Sampai di Padang Panjang haripun telah
malam. Agar tidak kelaparan di penginapan nantinya, kami singgah terlebih
dahulu di pajak Padang Panjang. Dimalam hari lokasi ini banyak sekali terdapat gerai
– gerai makanan. Siapa yang tak kenal masakan minang, semua yang dijajakan cukup
mengunggah selera. Sate Padang hingga nasi kapau ada disini. Walaupun di pajak,
namun menunya nggak kalah sama menu restaurant minang di kota Medan.
Setelah kenyang, maka kamipun kembali ke penginapan untuk
beristirahat. Sebenarnya aku ingin langsung tidur malam ini. Tapi karena ramai
dan hanya sesekali kumpul keluarga, aku ikut gabung sekedar mengobrol sambil bercanda tawa hingga larut
malam. Padahal besok kami masih akan melanjutkan perjalanan menuju janjang
seribu di ngarai sianok dan ke Puncak Lawang diatas danau Maninjau. Udah dulu
ya ceritaku hari ini.ZZZzzzzzzz.....


Tidak ada komentar:
Posting Komentar