Setelah melakukan jalan santai sepanjang jenjang 1000 di
Ngarai Sianok, Bus Pariwisata yang kami carter meninggalkan kota Bukit Tinggi.
Kami melewati jalan kampung yang berliku – liku. Dibeberapa tempat aku melihat
beberapa rumah penduduk yang mengeluarkan asap. Setelah kucari tahu, ternyata
di rumah itu memproduksi gula saka. Gula saka merupakan gula yang dibuat dari
nira asli pohon aren.
Sekitar dua jam lebih, kamipun sampai di Puncak Lawang. Ooh indah
sekali pemandangannya. Nun jauh dibawah sana kelihatan danau maninjau yang
sebagiannya ditutupi oleh awan. Jadi
kami berada diatas permukaan awan. Di daerah itulah seorang Ulama terkenal bernama
buya Hamka dilahirkan. Bagi yang berminat dengan outbond, di Puncak Lawang ada
lho. Begitu juga bagi peminat para layang, terdapat juga di lokasi ini.
Sementara aku dan rombongan hanya duduk – duduk saja sambil
menikmati keindahan alamnya. Walau alamnya begitu indah, namun akomodasi
seperti hotel tak ada disini. Begitu juga dengan kenderaan umum tak ku lihat
ada yang sampai disini.
Kelok 44
Setelah puas menikmati keindahan alam di Puncak Lawang, maka
kamipun bergegas menaiki bus pariwisata itu. Kami segera meninggalkan Puncak
Lawang, namun melewati jalan yang berbeda. Kami melewati jalan berkelok – kelok
yang dikenal dengan nama kelok 44.
Dinamakan Kelok 44 karena jumlah kelokannya sebanyak 44 kali.
Sepanjang kelok 44 yang menurun itu, kami meihat plank yang bertuliskan Asmaul
Husna sebanyak 99 buah. Jalan terus saja menurun hingga kami mendekati air
danau maninjau. Sesampai kami di sebuah kampung ditepi danau maninjau, kami
berhenti membeli cemilan khas daerah ini.
Karena bus berhenti di dekat danau, aku menyempatkan diri
untuk mendekati air danau. Tapi alangkah terkejutnya aku setelah melihat terdapat ikan – ikan mati mengapung
dipermukaan air danau. Ikan – ikan yang telah mati itu menimbulkan bau amis
yang tak mengenakkan. Sungguh sangat kusayangkan, danau seindah ini tercemari
oleh ulah sekelompok orang.
Ke Pantai Gondariah
Bus kembali bergerak menuju kota Padang Pariaman.Jalan raya yang
kami lewati sudah tidak berliku lagi. Haripun sudah mulai petang disaat kami
melalui jalan raya di pinggir laut. Kamipun sampai di Pusat kota Padang
Pariaman tepatnya di stasiun kereta api. Tepat didepan stasiun itu terdapat
lokasi wisata pantai yang oleh warga setempat disebut “Pantai Gondariah”.
Disepanjang pantai gondariah, kami mendapati banyak peduduk berjualan makanan dan minuman.
Enak juga menikmati matahari terbenam di pantai yang kebersihannya dijaga oleh
penduduknya. Duduk dibawah payung sambil menikmati air kelapa muda, aku
memandang pulau Angsa yang terletak didepanku. Katanya di pulau itu terdapat
penangkaran penyu. Namun dikarenakan hari telah mulai maghrib, kami tidak jadi
menyeberang ke pulau itu. Dari Pantai ini kami akan kembali pulang ke rumah
tanteku di kota Padang. Puas rasanya jalan – jalan keliling sumatera barat hari
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar