Kamis, 26 Februari 2015

Puncak Lawang


Setelah melakukan jalan santai sepanjang jenjang 1000 di Ngarai Sianok, Bus Pariwisata yang kami carter meninggalkan kota Bukit Tinggi. Kami melewati jalan kampung yang berliku – liku. Dibeberapa tempat aku melihat beberapa rumah penduduk yang mengeluarkan asap. Setelah kucari tahu, ternyata di rumah itu memproduksi gula saka. Gula saka merupakan gula yang dibuat dari nira asli pohon aren.

 Sekitar dua jam lebih, kamipun sampai di Puncak Lawang. Ooh indah sekali pemandangannya. Nun jauh dibawah sana kelihatan danau maninjau yang sebagiannya ditutupi oleh awan.  Jadi kami berada diatas permukaan awan. Di daerah itulah seorang Ulama terkenal bernama buya Hamka dilahirkan. Bagi yang berminat dengan outbond, di Puncak Lawang ada lho. Begitu juga bagi peminat para layang, terdapat juga  di lokasi ini.


Sementara aku dan rombongan hanya duduk – duduk saja sambil menikmati keindahan alamnya. Walau alamnya begitu indah, namun akomodasi seperti hotel tak ada disini. Begitu juga dengan kenderaan umum tak ku lihat ada yang sampai disini.

Kelok 44

Setelah puas menikmati keindahan alam di Puncak Lawang, maka kamipun bergegas menaiki bus pariwisata itu. Kami segera meninggalkan Puncak Lawang, namun melewati jalan yang berbeda. Kami melewati jalan berkelok – kelok yang dikenal dengan nama kelok 44.

Dinamakan Kelok 44 karena jumlah kelokannya sebanyak 44 kali. Sepanjang kelok 44 yang menurun itu, kami meihat plank yang bertuliskan Asmaul Husna sebanyak 99 buah. Jalan terus saja menurun hingga kami mendekati air danau maninjau. Sesampai kami di sebuah kampung ditepi danau maninjau, kami berhenti membeli cemilan khas daerah ini.



Karena bus berhenti di dekat danau, aku menyempatkan diri untuk mendekati air danau. Tapi alangkah terkejutnya aku setelah melihat  terdapat ikan – ikan mati mengapung dipermukaan air danau. Ikan – ikan yang telah mati itu menimbulkan bau amis yang tak mengenakkan. Sungguh sangat kusayangkan, danau seindah ini tercemari oleh ulah sekelompok orang.

Ke Pantai Gondariah


Bus kembali bergerak menuju kota Padang Pariaman.Jalan raya yang kami lewati sudah tidak berliku lagi. Haripun sudah mulai petang disaat kami melalui jalan raya di pinggir laut. Kamipun sampai di Pusat kota Padang Pariaman tepatnya di stasiun kereta api. Tepat didepan stasiun itu terdapat lokasi wisata pantai yang oleh warga setempat disebut “Pantai Gondariah”.


Disepanjang pantai gondariah, kami mendapati  banyak peduduk berjualan makanan dan minuman. Enak juga menikmati matahari terbenam di pantai yang kebersihannya dijaga oleh penduduknya. Duduk dibawah payung sambil menikmati air kelapa muda, aku memandang pulau Angsa yang terletak didepanku. Katanya di pulau itu terdapat penangkaran penyu. Namun dikarenakan hari telah mulai maghrib, kami tidak jadi menyeberang ke pulau itu. Dari Pantai ini kami akan kembali pulang ke rumah tanteku di kota Padang. Puas rasanya jalan – jalan keliling sumatera barat hari ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar