Minggu, 01 Maret 2015

Air Terjun Lau Balis



Pagi itu, sebuah bus pariwisata kelihatan sedang berhenti di MMTC sebelah sekolahku MAN 2 Model Medan. Aku dan teman – teman dari Drum Corps BIMANDA akan melakukan petualangan ke air terjun Lau Balis. Aku tak tahu persis mengenai air terjun satu ini. Kek manalah, karena awakpun baru kali ini  kesana.

Sekitar pukul 07:00 pagi, bus pariwisata berwarna putih itupun meninggalkan sekolahku menuju ke arah kota Binjai. Sesampainya di Binjai Super Mall, bus yang kami tumpangi berbelok ke kiri. Perjalanan terus menanjak melewati desa –desa yang asri. Hampir tiga jam diperjalanan, akhirnya bus itupun sampai disebuah lokasi bernama Giparuga milik pak Ginting.



Betapa senangnya hatiku, dan aku berpikir bahwa kami telah tiba di lokasi air terjun itu. Rasanya aku sudah tak sabar lagi untuk menceburkan diri di air terjun itu.  Kelihatan enam orang pemuda setempat berupaya menghampiri kami. Ternyata mereka adalah orang –orang yang akan memandu kami menuju ke lokasi. Kamipun diberi berbagai macam pengarahan dan dibekali baju pelampung untuk digunakan disaat mandi di air terjun.


Dugaanku meleset, ternyata turun dari bus pariwisata kami harus berjalan kaki yang aku sendiri tak tahu pasti berapa jauh jaraknya. Aku dan teman-teman langsung mengenakan baju pelampung siap siap untuk berendam. “Pasti lokasinya tak jauh”, kataku dalam hati.


Setelah pembagian kelompok, aku, rizka, nisa dan beberapa teman lainnya berada pada kelompk tiga. Kamipun berjalan kaki meninggalkan desa itu melewati ladang dan kebun milik penduduk. Suasana gembira mewarnai awal perjalanan kami yang mulai memasuki hutan. Kami menuruni anak tangga yang lumayan banyak jumlahnya. Kemudian kami menyeberangi jembatan kecil terbuat dari kayu. Sekitar setengah jam diperjalanan, temanku Nisa bertanya : “ Masih jauh lagi yaa Tiara? ”. Aku menjawab : ” manalah pulak aku tahu, kita ikuti ajalah abang – abang pemandu itu ”. Kami pun tertawa cekikikan.



Oops, kami sampai pada tebing curam yang mewajibkan kami untuk menuruninya. Untunglah cuaca cerah, jadi jalan tanah yang kami turuni itu tidak licin. Kurasa dibawah tebing itu air terjunnya. Ternyata aku salah, karena setelah menuruni tebing, kami harus mendaki pulak tebing selanjutnya. Sebagai seorang back packer, kami berusaha untuk tidak menampakkan rasa letih. Apalagi kami ingin agar kelompok kami akan menjadi kelompok terbaik pada petualangan ini.




Tak berapa lama kemudian, kami menemukan sebuah kolam yang menurut abang pemandu namanya “Kolam Abadi”. Kamipun berhenti di kolam itu sejenak. Aku memperhatikan disekeliling sungai itu, mana tahu ada terlihat air terjun yang mungkin menjadi tujuan kami. Ternyata bukan disini lokasi yang kami tuju. Kami melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak yang kadang mendaki dan terkadang menurun.


Ada perasaan khawatir disaat aku terpaksa harus melewati dinding tebing yang hanya berpegangan pada sebilah bambu dan akar – akar pohon. Aku bergantung bagaikan spiderman yang merayap di dinding tebing. Disaat aku berjalan di tengah tebing curam itu, aku menoleh ke bawah melihat begitu dalamnya jurang yang kulalui ini tak terbayang olehku jika aku terjatuh ke dalam sana. Setelah selesai merayap pada dinding tebing itu, hatiku merasa tenang walaupun jalan itu harus kulalui kembali disaat kami pulang nanti.


Aku tersenyum melihat temanku Rizka yang mulai berjalan terhegeh – hegeh. “Koq  senyum kau Tiara ?“, tanyanya kepadaku. “Aah enggak apa – apa koq, tenang aja“, jawabku pada Rizka bertubuh mungil itu. Setelah senyum-senyum sendiri, akhirnya kami melepas tawa mengingat perjalanan yang ntah kapan sampainya itu. Macam manalah pulak tak senyum-senyum sendiri, dari tadi ku pakai baju pelampung ini, tapi entah dimananya tempat mandinya.



Tapi syukurlah, setelah dua jam lebih berjalan kaki di hutan, akhirnya kami mendengar  suara air kami kuyakini suara air terjun. Betul saja, setelah melewati sungai yang mempunyai batu – batu besar, kamipun akhirnya sampai di air terjun Lau Balis. Ada yang menyebutnya Air Terjun Tongkat, karena dekat air terjun itu ada sebuah batang pohon besar yang tumbang dan seakan – akan menyerupai sebuah tongkat.



Menurut abang pemandunya atau istilah krennya guide, air terjun ini terletak di desa Rumah Galoh. Kecamatan sei bingei kabupaten Langkat Sumatera Utara, biar lebih lengkap kutambahkan Indonesia he..he..he.. AAhhh  Apapun ceritanya udah capek kurasa berjalan naik turun menuju kemari, nggak mau banyak pikir akupun lompat ke kolam di bawah air terjun itu mengikuti teman – temanku.



Alamak dingin kali kurasa airnya, nggak kayak mandi di rumah. Udah dingin, segar, jernih pulak itu. Cocok kali kurasa, karena kolamnya nggak dalam, paling setinggi dada aja. Maklumlah, awakkan tak pande kali berenang. Lama- lama mulai menggigil pulak badanku, jadi laparlah awak. Untunglah mamak awak sayang kali sama awak, soalnya tadi mau berangkat dibuatkannya awak nasi bungkus, mantaplah.



Makin tambah selera makan awak, karena awak tengok abang- abang senior lagi asyiik bakar ayam di atas batu besar. Jadi makan bersamalah kami. Mantap kali kurasa bah. Habis makan, perutpun  kenyang, habis itu ya mandi lagilah aku. Kupuas – puaskanlah menikmati alam di daerah ini, mana tau ntah tak kemari lagi aku.



Oops, setelah puas sekian lama berendam, kakak pelatih drumband kami memberi kode agar kami segera meninggalkan lokasi. Alamaak, tebayang awak jalan yang akan kami lalui tadi, tapi mau macam mana lagi, kalau tak mau, tinggallah awak sendiri di kolam ini ha..ha..ha.. Singkat cerita, sampailah kami ditempat dimana bus pariwisata itu dengan setianya menanti kami keluar dari dalam hutan.



Mengingat hari sudah mulai senja, maka rombongan kamipun meninggalkan lokasi basecamp itu. Keceriaan masih mewarnai perjalanan pulang menuju ke sekolah. Makin mantap aja, diperjalanan pulang itu kakak pelatih mengumumkan bahwa kelompok kami dinyatakan sebagai kelompok terbaik. Alamak, nggak sia-sia perjalanan hari ini walau ku yakin malam nanti kaki dan badanku pasti bakal pegal – pegal semua wkwkwkwk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar