Sekitar pukul 07:00 pagi, bus pariwisata berwarna putih itupun meninggalkan sekolahku menuju ke arah kota Binjai. Sesampainya di Binjai Super Mall, bus yang kami tumpangi berbelok ke kiri. Perjalanan terus menanjak melewati desa –desa yang asri. Hampir tiga jam diperjalanan, akhirnya bus itupun sampai disebuah lokasi bernama Giparuga milik pak Ginting.
Dugaanku meleset, ternyata turun dari bus pariwisata kami harus
berjalan kaki yang aku sendiri tak tahu pasti berapa jauh jaraknya. Aku dan
teman-teman langsung mengenakan baju pelampung siap siap untuk berendam. “Pasti
lokasinya tak jauh”, kataku dalam hati.
Setelah pembagian kelompok, aku, rizka, nisa dan beberapa teman lainnya berada pada kelompk tiga. Kamipun berjalan kaki meninggalkan desa itu melewati ladang dan kebun milik penduduk. Suasana gembira mewarnai awal perjalanan kami yang mulai memasuki hutan. Kami menuruni anak tangga yang lumayan banyak jumlahnya. Kemudian kami menyeberangi jembatan kecil terbuat dari kayu. Sekitar setengah jam diperjalanan, temanku Nisa bertanya : “ Masih jauh lagi yaa Tiara? ”. Aku menjawab : ” manalah pulak aku tahu, kita ikuti ajalah abang – abang pemandu itu ”. Kami pun tertawa cekikikan.
Setelah pembagian kelompok, aku, rizka, nisa dan beberapa teman lainnya berada pada kelompk tiga. Kamipun berjalan kaki meninggalkan desa itu melewati ladang dan kebun milik penduduk. Suasana gembira mewarnai awal perjalanan kami yang mulai memasuki hutan. Kami menuruni anak tangga yang lumayan banyak jumlahnya. Kemudian kami menyeberangi jembatan kecil terbuat dari kayu. Sekitar setengah jam diperjalanan, temanku Nisa bertanya : “ Masih jauh lagi yaa Tiara? ”. Aku menjawab : ” manalah pulak aku tahu, kita ikuti ajalah abang – abang pemandu itu ”. Kami pun tertawa cekikikan.
Oops, kami sampai pada tebing curam yang mewajibkan kami
untuk menuruninya. Untunglah cuaca cerah, jadi jalan tanah yang kami turuni itu
tidak licin. Kurasa dibawah tebing itu air terjunnya. Ternyata aku salah,
karena setelah menuruni tebing, kami harus mendaki pulak tebing selanjutnya.
Sebagai seorang back packer, kami berusaha untuk tidak menampakkan rasa letih.
Apalagi kami ingin agar kelompok kami akan menjadi kelompok terbaik pada
petualangan ini.
Tak berapa lama kemudian, kami menemukan sebuah kolam yang
menurut abang pemandu namanya “Kolam Abadi”. Kamipun berhenti di kolam itu
sejenak. Aku memperhatikan disekeliling sungai itu, mana tahu ada terlihat air
terjun yang mungkin menjadi tujuan kami. Ternyata bukan disini lokasi yang kami
tuju. Kami melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak yang kadang mendaki
dan terkadang menurun.
Aku tersenyum melihat temanku Rizka yang mulai berjalan terhegeh
– hegeh. “Koq senyum kau Tiara ?“,
tanyanya kepadaku. “Aah enggak apa – apa koq, tenang aja“, jawabku pada Rizka
bertubuh mungil itu. Setelah senyum-senyum sendiri, akhirnya kami melepas tawa
mengingat perjalanan yang ntah kapan sampainya itu. Macam manalah pulak tak
senyum-senyum sendiri, dari tadi ku pakai baju pelampung ini, tapi entah
dimananya tempat mandinya.
Tapi syukurlah, setelah dua jam lebih berjalan kaki di hutan,
akhirnya kami mendengar suara air kami
kuyakini suara air terjun. Betul saja, setelah melewati sungai yang mempunyai
batu – batu besar, kamipun akhirnya sampai di air terjun Lau Balis. Ada yang menyebutnya
Air Terjun Tongkat, karena dekat air terjun itu ada sebuah batang pohon besar
yang tumbang dan seakan – akan menyerupai sebuah tongkat.
Menurut abang pemandunya atau istilah krennya guide, air
terjun ini terletak di desa Rumah Galoh. Kecamatan sei bingei kabupaten Langkat
Sumatera Utara, biar lebih lengkap kutambahkan Indonesia he..he..he.. AAhhh Apapun ceritanya udah capek kurasa berjalan
naik turun menuju kemari, nggak mau banyak pikir akupun lompat ke kolam di
bawah air terjun itu mengikuti teman – temanku.
Alamak dingin kali kurasa airnya, nggak kayak mandi di rumah. Udah dingin, segar, jernih pulak
itu. Cocok kali kurasa, karena kolamnya nggak dalam, paling setinggi dada aja.
Maklumlah, awakkan tak pande kali berenang. Lama- lama mulai menggigil pulak
badanku, jadi laparlah awak. Untunglah mamak awak sayang kali sama awak,
soalnya tadi mau berangkat dibuatkannya awak nasi bungkus, mantaplah.
Makin tambah selera makan awak, karena awak tengok abang-
abang senior lagi asyiik bakar ayam di atas batu besar. Jadi makan bersamalah
kami. Mantap kali kurasa bah. Habis makan, perutpun kenyang, habis itu ya mandi lagilah aku.
Kupuas – puaskanlah menikmati alam di daerah ini, mana tau ntah tak kemari lagi
aku.
Oops, setelah puas sekian lama berendam, kakak pelatih
drumband kami memberi kode agar kami segera meninggalkan lokasi. Alamaak,
tebayang awak jalan yang akan kami lalui tadi, tapi mau macam mana lagi, kalau
tak mau, tinggallah awak sendiri di kolam ini ha..ha..ha.. Singkat cerita,
sampailah kami ditempat dimana bus pariwisata itu dengan setianya menanti kami
keluar dari dalam hutan.
Mengingat hari sudah mulai senja, maka rombongan
kamipun meninggalkan lokasi basecamp itu. Keceriaan masih mewarnai perjalanan
pulang menuju ke sekolah. Makin mantap aja, diperjalanan pulang itu kakak
pelatih mengumumkan bahwa kelompok kami dinyatakan sebagai kelompok terbaik. Alamak,
nggak sia-sia perjalanan hari ini walau ku yakin malam nanti kaki dan badanku
pasti bakal pegal – pegal semua wkwkwkwk.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar