Selasa, 03 Maret 2015

Wisata ke Berastagi


Minggu pagi itu, aku, Nisa dan Rizka yang masih duduk dibangku kelas dua MAN 2 Medan, sepakat akan mengisi liburan. Rencana kami pagi itu adalah ke kota berastagi. Sebenarnya udah sering kali aku ke kota itu, tapi karena kedua temanku mengajak kesana juga, ya tak mengapalah kuikuti saja keinginan mereka. Apalagi siNisa, katanya belum pernah ke Berastagi, mau ketawaknya aku mendengarnya.


Jadi berkumpullah kami di jalan jamin ginting daerah Padang Bulan Medan, ya kira- kira 300 meterlah melewati simpang pos. Kalau disitu memang tempat mangkalnya beberapa bus mini yang akan membawa penumpang ke arah kabupaten Karo. Ada merk busnya Sutra, Sumatera, Borneo. Tapi kali ini kami naek bus “Sinabung Jaya”. Masalah ongkos Cuma Rp 10.000,- dan bayar masing-masinglah yoo he..he..he..


 Hari ini macam pemandu wisata pulak aku dijadikan oleh kedua temanku itu. Macam manalah aku tak ketawak, mendengar pengakuan temanku yang belum pernah melihat gunung. Jadi sepanjang perjalanan asik ketawak ajalah kerja kami. Tak terasa kami udah sampai di Sembahe. Sebuah sungai yang ramai dikunjungi, terutama pada hari libur. Mulai dari desa Sembahe itu, perjalananpun terus menanjak dan berliku.


 Begitu juga setelah melewati bumi perkemahan Sibolangit. Bus Sinabung Jaya yang kami naiki langsung tancap gas melewati desa Bandar Baru yang terus menanjak hingga daerah Tongkoh. Tongkoh, sering dijadikan tempat beristirahat bagi pengendara sepeda motor dan mobil pribadi. Di Tongkoh ini banyak yang jual jagung, baik yang direbus ataupun jagung bakar. Menikmati panorama alam sambil makan jagung dan  minum air hangat atau air tebu tentu terasa nikmat.


 Sekitar 500 meter melewati Tongkoh, bus sampai di simpang tiga desa Daulu. Kalau jalan yang belok ke kanan merupakan jalan yang sering dilalui oleh mereka yang hendak mendaki gunung Sibayak. Disana juga ada kolam pemandian air panas yang beraroma belerang. Tapi tujuan kami kali ini bukan ke sana, makanya bus Sinabung Jaya ini pun terus menuju ke Berastagi.


 Dalam beberapa menit kemudian, kami melewati Tahura (Taman Hutan Raya) yang merupakan salah satu hutan yang dilindungi. Sebenarnya aku bermaksud hendak turun di Tahura ini. Dari simpang tiga yang ada di depan Tahura, aku berencana membawa kedua temanku terlebih dahulu ke Taman Lumbini.

 Tapi karena aku sedikit tertidur, maka kelewatanlah simpang itu. Maklumlah masih pemandu amatir he..he..he.. “Turun dimana kita Tiara ?”, tanya Rizka seraya membangunkanku. Karena ku tengok sudah di bukit Kubu, maka kubilang sajalah di Tugu Kota. Padahal sudah kelewatan simpang tiga yang didepan Tahura itu J.Sampai di Tugu Perjuangan kota Berastagi, kami diturunkan dan membayar ongkosnya rp 10.000/orang.


 Aku ajak mereka ke warung yang berada tepat di depan lokasi berhentinya bus itu. Seperti kebiasaanku, aku memesan teh susu hangat sambil melepas lelah setelah hampir dua jam diperjalanan dari kota Medan. Dari Warung minum itu aku menunjuk ke arah sebuah bukit bernama : Bukit Gundaling”. Aku menjelaskan kepada kedua temanku bahwa kami akan kesana.


1.Ke Bukit Gundaling.
Setelah selesai minum, kamipun menyeberang hendak mendapatkan angkot yang membawa kami ke puncak bukit itu. Namun karena mereka tak sabar menunggu angkot yang datang, maka kuajak mereka berjalan santai saja, mana tau ketemu angkot, ya tinggal naik aja. Kamipun berjalan melewati jalan raya menuju ke bukit gundaling.


 Entah mengapa pikiran kami berubah. Dari pada naik angkot, lebih asyik kita berjalan kaki santai aja. Maka sepakatlah kami berjalan melewati kebun-kebun milik penduduk. Ada yang menanam jeruk, ada tanaman wortel, toman dsb.  Asyik juga trecking di tengah ladang. Kami melewati ribuan anak tangga untuk sampai di gundaling.


Alhamdulillah akhirnya sampai juga di puncak Bukit Gundaling. Kamipun mencari tempat duduk untuk sekedar beristirahat.Acara kita saat ini adalah Makaaaannn. Kamipun tertawa sambil mengeluarkan bekal makanan yang masing – masing kami bawa dari rumah.  Kami menikmati indahnya Panorama disini.


Dari bukit ini kami dapat melihat dengan jelasnya kawah Gunung Sibayak. Sementara agak dikejauhan terlihat Gunung Sinabung. Begitu juga dengan kota Berastagi kelihatan berada dibawah bukit ini. Ya disini Cuma menikmati keindahan panorama alam saja. Makanya banyak pelancong berfoto – foto ria dengan latar belakang pemandangan yang begitu luasnya.


 Setelah puas menikmati bukit gundaling, kami sepakat untuk kembali turun ke pusat kota Berastagi. Tapi kali ini nggak jalan kaki lagi, melainkan naik angkot saja. Lagipun ongkosnya Cuma rp 3000,- saja.
*****
Kota Berastagi memang indah. Aku suka kota ini. Sejak umur dua tahun aku sudah dibawa kedua orang tuaku menginap di kota ini. Sakin seringnya, udah tak ingat aku sudah berapa kali menginap di kota ini. Pokoknya udah macam kampungkulah kota berastagi ini J. Yang paling kusuka disaat malam hari, sepanjang jalan veteran ini, banyak kali warung tenda hingga larut malam.

 Tapi warung tendanya buka sekitar jam lima sore hingga larut malam. Ya lokasinya didepan ruko didekat tugu hingga ke terminal bus . Ayam & Ikan Panggang, mie rebus, kerang rebus, pecal, sate, bandrek, kopi, teh dan pokoknya banyaklah kuliner nusantara disajikan. Harganyapun nggak mahal koq. Suasana udara yang dingin serta asap yang mengepul membuat kenangan sendiri di kota ini.



2.Ke Taman Lumbini.


Oh ya, kembali ketemanku tadi ha..ha..ha.. Setelah singgah di pasar buah, kami mendapatkan angkot “sigantang sira” yang berwarna kuning. Tujuannya adalah simpang tiga   desa tongkoh  yang di dekat Tahura. Ongkosnya sih biasa aja Rp 3000,- pas buat kondisi kantong back packer J. Dari simpang tiga yang ada patung buah manggisnya itu ke taman lumbini ada sekitar 1 kilometer. 


Maka kami minta tolong sama pak supir agar sudi kiranya menghantarkan kami sampai ke lokasi. Ya capek jugalah kalau jalan kaki lagi macam ke gundaling tadi. Syukurlah pak supirnya bersedia menghantarkan kami hingga ke lokasi dengan tambahan onkos Rp 10.000,-.


Taman Lumbini yang luasnya sekitar 3 hektar ini merupakan sebuah taman yang didalamnya terdapat pagoda berwarna emas. Pagoda ini dijadikan tempat sembahyang bagi ummat budha. Disini seakan-akan kita berada di Myanmar atau Thailand J


Lokasi tamannya  dikelola dengan baik, maka lokasi inipun jadi tempat lokasi wisata. Gratis lho masuknya, Cuma catat nama, alamat serta nomor HP aja. Tapi harus ikut aturan yaa, seperti dilarang membawa makanan, harus sopan dan dilarang merokok,karena dibanyak tempat dipasang cctv. Jadi kalau duduk di taman, ya bagus – bagus ajalah dan jangan macam – macam J.


 Arsitekturnya keren cuy, ini adalah replika Pagoda Shwedagon di Myanmar. Taman Alam Lumbini berada di Desa Tongkoh, Kecamatan Dolat Rakyat, Kabupaten Karo.Katanya, hampir semua yang ada di dalam pagoda diimpor langsung dari Myanmar. Untuk masuk ke  pagoda, semua pengunjung wajib melepaskan alas kakinya dan mematikan ponselnya. Tapi kalau ditamannya sih boleh – boleh aja.

Kami hanya menikmati pekarangan dan tamannya saja. Lokasi tamannya mengikuti suasana alamnya. Makanya terdapat banyak anak tangga yang menuruni bukit. Disana juga ada jembatan berwarna emas yang disebut jembatan cinta. Tapi hanya boleh dilewati maksimal 10 orang, tapi lebih sering ditutup sih jembatannya, ya mungkin takut bahaya kale ya.


 Setelah cukup puas menikmati taman lumbini maka kamipun sepakat untuk kembali ke kota berastagi. Dengan menaiki angkot sigantang sira, kami kembali turun di depan tugu perjuangan. Ya dari depan tugu inilah rencananya kami naek bus menuju ke Medan.


Tapi sebelum naik bus yang datang dari kota Kaban Jahe, kuajak kedua temanku untuk makan bakso Seragen yang ada di ruko depan tugu perjuangan itu. Setiap aku ke Berastagi ini, selalu kusempatkan makan bakso disini. Karena rasanya lezat, akupun mengajak kedua temanku itu untuk mencobanya. Setelah kenyang, kamipun naik bus menuju kembali ke Kota Medan.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar