Bagi back packer pencinta alam, datangnya masa
liburan merupakan hal yang dinantikan. Begitu juga dengan kami. Liburan
menjelang tahun baru 2018 barusan kami memberanikan diri melangkahkan kaki
menuju Pulau Weh di provinsi Aceh. Sebuah pulau yang belum pernah kami
kunjungi. Terletak di ujung utara Pulau Sumatera.
Ada beberapa pilihan transportasi dari Medan menuju
kesana, seperti dengan pesawat, rental mobil. Namun kami pilih yang ongkosnya
sesuai dengan kantong ajalah he..he..he.. Ya tentu naik bus saja. Ada
beberapa bus dari Medan ke Banda Aceh. Seperti Bus Kurnia, PMTOH, Sempati dsb.
Mengingat waktu diperjalanan sekitar 12 jam, maka kamipun memutuskan untuk
berangkat malam. Hampir semua bus bergerak antara jam 20:00 s/d 09:00.
Adapun tarif ongkosnya sesuaikan aja dengan isi
dompet. Ada bus eksekutif ongkosnya Rp
250,000. Ada yang patas ongkosnya RP 200,000,-. Walau kami pilih yang patas,
namun kondisi busnya Oke kok. Memang semua bus Medan ke Banda Aceh keluaran
Marcedes Benz. Toplah pokoknya. Oke kami bergerak meninggalkan kota Medan Pada
hari Kamis malam Jumat(28/12/2017).
Singkat cerita, sekitar jam 09:00 pagi, sampailah di
terminal bus terpadu Batoh Banda Aceh. Langsunglah kami pesan tiket bus untuk pulang
ke Medan tanggal 31 Desember jam 08:00 seharga Rp 180,000/orang. Kami langsung
didekati tukang ojek dan tukang becak yang menawarkan jasanya. Maklumlah
pertama kali ke Aceh, masih bingung juga. Kamipun keluar terminal mencari
warung sarapan plus mencicipi kopi Aceh.
Sambil menikmati sarapan pagi, kami
mencari informasi dari penduduk setempat bagai mana menuju ke Pulau Weh. Bak
kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan. Dari Informasi yang didapat kami
akan sampai ke Sabang sore hari, mengingat jadwal keberangkatan Fery
menyeberang kesana tidak terlalu banyak.
Kamipun memutuskan menginap malam ini di kota Banda
Aceh. Ya sasaran pertama tentu mencari penginapan. Tenang aja,banyak
transportasi untuk menemukan penginapan. Transportasi online seperti Go Car dan
Grab sudah ada. Namun untuk lebih menikmati kota Banda Aceh, kami naik becak
ajalah. Setelah mutar mutar kesana kemari akhirnya ketemu juga penginapannya.
Maklumlah musim libur, beberapa hotel penuh. Menginaplah kami di hotel M Mulana
di Jl Tgk Dianjong Keudah Banda Aceh. Satu kamar bertiga dengan tarif Rp
300,000,- Pake AC, pesawat TV dan disediain wifi udah tergolong murahlah ya. Urunan
ya cuma Rp 100,000 per orang he..he..he...
Ngapain lama lama di kamar, ya langsunglah melalak
mau tengok tengok kota Banda Aceh. Tapi mau kemana ?. Tenang, tinggal buka
aplikasi google map. Oh ternyata penginapannya gak jauh dari masjid raya
Baiturrahman. Ya jalan santai ajalah dan ternyata hanya hitungan menit saja
udah sampai.
Dari spanduk yang ada dipagar masjid, dapat
informasi bahwa tanggal 26 Desember barusan diadakan peringatan mengenang
tsunami 13 tahun yang lalu (2004). Langsung terbersit di pikiran untuk melihat
situs atau bekas bekas peninggalan tsunami itu. Maka diputuskanlah bahwa tujuan
pertama mengunjungi museum tsunami yang tak jauh dari masjid raya Baiturrahman
ini.
Naik transportasi online atau becak ya. Lagi lagi
becak yg jadi pilihan, biar lebih luas dan menikmati pemandangan kota. Syukur
ketemu tukang becak yang ramah dan pintar. Tukang becak menawarkan untuk
mengunjungi semua situs tsunami yang ada di kota Banda Aceh dan sekitarnya.
Berapa ongkosnya pak ?. Iya menjawab :” nanti aja, yang penting kita mutar
mutar mendatangi semua bekas tsunami. Setelah mikir sekejap, oke pak lets’go.
Pertama dibawalah kami ke Museum Tsunami melihat
foto - foto yang bercerita tentang kejadian tsunami . Setelah cukup informasi
dari museum, kami keluar menemui tukang becak yang setia menunggu, he..he..he..
iyalah ongkosnyakan nanti di akhir bayarnya. Oke pak lanjut, kemana kita lagi
?. “Ke kapal Apung” kata siabang becak. Hanya hitungan menit kulihatlah kapal
besar yang terdampar di tengah pemukiman penduduk. Tak dapat kubayangkan
bagaimana besarnya ombak saat tsunami itu yang menyerat kapal PLTD milik PLN
dari laut ke kota. Ya udahlah, tinggal ambil hape.. berfoto cekrek..cekrek..
Lanjut bang. Kamana lagi kita. Abang becakpun
menghantarkan kami ke kuburan massal yang tak jauh dari kapal apung itu. Oke
lanjut bang. Kamipun di bawa ke sebuah pemukiman penduduk yang di lokasi itu
terdampar kapal milik TNI AL yang terdampar dalam posisi miring. Oke lanjut
bang. Kamipun di bawa lagi menuju perahu yang tersangkut di atas rumah penduduk
yang terletak di daerah Lampulo.
Oke bang lanjut. Kamipun dibawa lagi menuju kawasan
Muara. Disini kami menjumpai kawasan pekuburan seorang ulama terkenal beserta
beberapa kuburan murid-muridnya. Ulama itu bernama ‘Abdul rauf atau dikenal
juga dengan ulama Syiah Kuwala. Menurut penjaganya, lokasi yang terletak ditepi
pantai itu habis luluh lantak oleh terjangan ombak tsunami, kecuali batu nisan
ulama ini.
Oke bang lanjutkan perjalanan kita. Kamipun dibawa
kembali dibawa ke kota melewati pelabuhan Uleelhue. Sepanjang perjalanan si
abang becak terus aja bercerita tentang kejadian tsunami yang dialaminya
langsung saat itu. Disaat tiba dipersimpangan siabang berhenti di depan masjid
Baiturrahiim yang merupakan salah satu bangunan yang selamat dari terjangan
ombak besar tsunami.
Kemana lagi kita bang ?. Ada satu lagi kata siabang
becak, Cuma tempatnya agak jauh. Ke pantai Lampuuk. Disana semua bangunan
hancur luluh kecuali ada satu masjid namanya masjid Rahmatullah. Lebih kurang
setengah jam kesana. Melihat jam sekitar jam lima sore, kami memutuskan untuk
ke sana. Lanjut bang.
Siabang becak terus aja bercerita tentang tsunami.
Di perjalanan kami melihat rumah Tjut Nyak Din yang cantik dan warung warung
yang menjual oleh oleh. Kata siabang, jalan yang kami lalui ini merupakan jalan
menuju ke Melaboh dan Aceh Selatan. Tak berapa lama setelah melewati rumah tjut
nyak din, becakpun berbelok ke kanan menuju pantai Lempuuk yang berpasir putih
indah. Namun mengingat waktu menjelang maghrib, kami hanya singgah di masjid
Rahmatullah yang fotonya terpampang di museum tsunami tadi. Masjid Rahmatullah
ini terletak di daerah Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.
Kami hanya menyempatkan diri ikut sholat maghrib
berjemaah di masjid yang telah direnovasi itu. Selesai sholat kuperhatikan
bagian dalam masjid itu. Ada tiang yang retak efek gempa dan tsunami yang
dibiarkan untuk mengingat kejadian maha dahsyat itu.
Hari sudah mulai gelap. Kami meninggalkan kawasan
pantai Lempuuk menuju kembali ke kota. Cukup jauh juga perjalanan mutar mutar
hari ini. Setelah sampai kota Banda Aceh, siabang becak menyempatkan juga
singgah di Rumah adat Aceh dan makam pahlawan Sultan Iskandar Muda yang
letaknya berdekatan. Lalu singgah di salah satu restoran untuk makan malam.
Terakhir dihantar kembali ke penginapan. Berapa ongkosnya bang ?. Sambil
tersenyum siabang mengatakan Rp 250,000,- saja. Mengingat jarak yang cukup
jauh, tanpa tawar kamipun membayarnya.
Oke, jalan-jalan keliling kota banda Aceh sudah,
saatnya istirahat, karena habis subuh besok kami harus bergerak ke pelabuhan
Uleelheue berburu tiket fery trip pertama menuju pulau Weh.(bersambung).















Tidak ada komentar:
Posting Komentar